Kamis, 17 Desember 2015

Pengertian dan Makna Bhinneka Tunggal Ika

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Bhinneka Tunggal Ika, beberapa hal yang akan kita bahas adalah Pengertian Bhinneka Tunggal Ika, Sejarah Bhinneka Tunggal Ika, Fungsi Bhinneka Tunggal Ika, serta Prinsip dan Implementasi Bhinneka Tunggal Ika. Langsung saja kita akan masuk ke dalam pembahasannya.

PENGERTIAN BHINNEKA TUNGGAL IKA

Secara etimologi atau asal-usul bahasa, kata-kata Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuna yang jika dipisahkan menjadi Bhinneka = beragam atau beraneka, Tunggal = satu, dan Ika = itu. Artinya, secara harfiah, jika diartikan menjadi beraneka satu itu. Maknanya, dapat dikatakan bahwa beraneka ragam tetapi masih satu jua. Semoboyan ini diambil dari kitab atau kakawin Sutasoma karangan Empu Tantular, yang hidup pada masa Kerajaan majapahit sekitar abad ke-14 M.


Hal ini menunjukkan persatuan dan kesatuan yang terjadi diwilayah Indonesia, dengan keberagaman penduduk Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, bahasa daerah, ras, agama,  dan kepercayaan, lantas tidak membuat Indonesia menjadi terpecah-belah. Melalui semboyan ini, Indonesia dapat dipersatukan dan semua keberagaman tersebut menjadi satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

SEJARAH BHINNEKA TUNGGAL IKA

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah kutipan yang diambil dari Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular yang ditulis atau dikarang pada tahun ke-14 Masehi atau lebih tepatnya pada zaman Kerajaan Majapahit yang notabene menganut kepercayaan Hindu. Empu Tantular merupakan seorang penganut Budha pada masa Majapahit, namun itu tidak membuat hidupnya menjadi tidak aman atau tidak tentram. Sebaliknya, Empu Tantular menjalani kehidupan yang aman dan tentram di bawah kepercayaan Hindu yang dianut oleh kerajaan. Dalam kitab tersebut, Empu Tantular menulis “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” (Bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina(Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua).

Bhinneka Tunggal Ika mulai menjadi bahan diskusi saat dimulainya proses persiapan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, Ir.Soekarno bersama dengan Muhammad Yamin, dan I Gusti Bagus Sugriwa membuat diskusi kelompok kecil di sela-sela sidang BPUPKI perihal mempersiapkan kesiapan-kesiapan untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Artikel Penunjang : Pengertian,Anggota, Sidang dan Sejarah BPUPKI
Setelah beberapa tahun kemudian, ketika para tokoh bangsa yang telah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia berembuk untuk merancang lambang Negara, maka timbullah ide untuk memasukkan semoyan Bhinneka Tunggal Ika ke dalam lambang tersebut. Maka jadilah, pada lambing burung garuda, pada kaki burung tersebut, terdapat tulisan Bhinneka Tunggal Ika.

Secara resmi, lambang burung Garuda beserta tulisan Bhinneka Tunggal Ika tersebut digunakan pada saat Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yang dipimpin oleh wakil presiden saat itu, yaitu Mohd.Hatta pada tanggal 11 Februari 1950. Lambang ini disahkan berdasarkan usulan dari Sultan Hamid 2 dan Muh.Yamin. sebenarnya, banyak sekali yang mengusulkan rancangan lambang dari tokoh-tokoh saat itu, tetapi yang terpilih ialah rancangan yang dibuat oleh Sultan Hamid beserta Muh.Yamin.

Sebenarnya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika lebih bermanifestasi kepada keadaan kepercayaan atau agama pada masa itu. Empu Tantular dalam kitabnya, menceritakan kata-kata itu untuk menggambarkan keadaan damai yang dirasakan walaupun terdapat perbedaan kepercayaan. Namun, oleh para tokoh bangsa, semboyan ini diberikan penafsiran baru untuk memenuhi permintaan kondisi akan zaman tersebut. Indonesia yang beraneka ragam tetapi bersatu padu, dianggap sesuai dengan makna semboyan tersebut.

Para Founding Fathers yang kebanyakan beragama Islam pada saat itu, terlihat sangat toleran terhadap usulan semboyan yang diusulkan oleh Muh.Yamin. watak inilah yang menjadi cerminan rakyat Indonesia yang sangat toleran terhadap keanekaragaman yang ada. Rakyat Indonesia telah mengenal aneka ragam suku bangsa, ras, kepercayaan jauh sebelum agama-agama dating dan masuk ke Indonesia.
Artikel Penunjang : Persiapan Kemerdekaan Negara Repbulik Indonesia
FUNGSI BHINNEKA TUNGGAL IKA

Bangsa Indonesai telah lama hidup di dalam keaneka ragaman, tetapi hal ini tidak pernah menampilkan perseteruan antar rakyat Indonesia. Keberagaman yang ada digunakan untuk membentuk suatu Negara yang besar. Keberagaman yang terjadi baik itu di dalam segi kepercayaan, warna kulit, suku bangsa, agama, bahasa, menjadikan Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang besar dan berdaulat. Sejarah mencatat bahwasanya semua anak bangsa yang tergabung dalam berbagai macam suku turut serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengambil peran masing-masing.

Para tokoh bangsa yang bergerak dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia telah menyadari tantangan yang harus dihadapi oleh karena kemajemukan yang ada di dalam bangsa ini. Keberagaman menjadi sebuah realitas yang tidak dapat dihindari di dalam negeri ini. Pemikiran dan tindakan yang diperbuat tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menunjukkan pada dunia bahwa cita-cita bangsa akan terwujud dengan keanekaragaman itu. Ke-bhinneka-an merupakan sebuah hakikat realitas yang telah ada dalam bangsa Indonesia, sedangkan ke-Tunggal-Ika-an merupakan sebuah cita-cita kebangsaan. Wahana inilah yang menjadi jembatan emas penghubung menuju pembentukan Negara berdaulat serta menunjukkan kebesarannya di mata dunia.

Konsep Bhinneka Tunggal Ika merupakan sebuah semboyan yang dijadikan dasar Negara Indonesia. Oleh karena itu, Bhinneka Tunggal Ika patut dijadikan sebagai landasan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di dalam bangsa Indonesia. Kita sebagai generasi selanjutnya yang bisa menikmati kemerdekaan dengan mudah, haruslah bersungguh-sungguh dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa saling menghargai dengan masyarakat tanpa saling memikirkan percampuran suku bangsa, ras, agama, bahasa, dan keaneka ragaman lainnya. Tanpa adanya kesadaran di dalam diri rakyat Indonesia, maka pantaslah Indonesia akan hancur dan terpecah belah.

PRINSIP BHINNEKA TUNGGAL IKA

1. Common Denominator

Di Indonesia, berbagai macam keaneka ragaman yang ada tidaklah membuat bangsa ini menjadi pecah. Terdapat 5 agama yang ada di Indonesia, dan hal tersebut tidak membuat agama-agama tersebut untuk saling mencela. Maka sesuai prinsip pertama dari Bhinneka Tunggal Ika, maka perbedaan-perbedaan di dalam agama tersebut haruslah dicari common denominatornya, atau dengan kata lain kita haruslah mencari persamaan dalam perbedaan itu, sehingga semua rakyat yang hidup di Indonesia bisa hidup di dalam keanekaragaman dan kedamaian dengan adanya kesamaan di dalam perbedaan tersebut.

Begitu juga halnya dengan dengan aspek lain yang memiliki perbedaan di Indonesia, seperti adat dan kebudayaan yang terdapat di setiap daerah. Semua macam adat dan budaya itu tetap diakui konsistensinya sebagai adat dan budaya yang sah di Indonesia, namun segala macam perbedaan tersebut tetap bersatu di dalam bingkai Negara kesatuan republik Indonesia.

2. Tidak Bersifat Sektarian dan Enklusif

Makna yang terkandung di dalam prinsip ini yaitu semua rakyat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan menganggap bahwa dirinya atau kelompoknya adalah yang paling benar, paling hebat, atau paling diakui oleh yang lain. Pandangan-pandangan sectarian dan enklusif haruslah dihilangkan pada segenap tumpah darah Indonesia, karena ketika sifat sectarian dan enklusif sudah terbentuk, maka akan banyak konflik yang terjadi dikarenakan kecemburuan, kecurigaan, sikap yang berlebihan, dan kurang memperhitungkan keberadaan kelompok atau pribadi lain.

Bhinneka Tunggal Ika bersifat inklusif, dengan kata lain segala kelompok yang ada haruslah saling memupuk rasa persaudaraan, kelompok mayoritas tidak memperlakukan kelompok minoritas ke dalam posisi terbawah, tetapi haruslah hidup berdampingan satu sama lain. Kelompok mayoritas juga tidak harus memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain.

3. Tidak Bersifat Formalistis

Bhinneka Tunggal Ika tidak bersifat formalistis, yang hanya menunjukkan perilaku semu dan kaku. Tetapi, Bhinneka Tunggal Ika bersifat universal dan menyeluruh. Hal ini dliandasi oleh adanya rasa cinta mencintai, rasa hormat menghormati, saling percaya mempercayai, dan saling rukun antar sesame. Karena dengan cara inilah, keanekaragaman dapat disatukan dalam bingkai ke-Indonesiaan.

4. Bersifat Konvergen

Bhinneka Tunggal Ika bersifat konvergen dan tidak divergen. Segala macam keaneka ragaman yang ada jika terjadi masalah, bukan untuk dibesar-besarkan, tetapi haruslah dicari satu titik temu yang dapat membuat segala macam kepentingan menjadi satu. Hal ini dapat dicapai jika terdapatnya sikap toleran, saling percaya, rukun, non sectarian, dan inklusif.

IMPLEMENTASI BHINNEKA TUNGGAL IKA

Implementasi terhadap Bhinneka Tunggal Ika dapat tercapai jika rakyat dan seluruh komponen mematuhi prinsip-prinsip yang telah disbeutkan di atas. Yaitu :

1. Perilaku Inklusif

Seseorang haruslah menganggap bahwa dirinya sedang berada di dalam suatu populasi yang luas, sehingga dia tidak melihat dirinya melebihi dari yang lain. Begitu juga dengan kelompok. Kepentingan bersama lebih diutamakan daripada keuntungan pribadi atau kelompoknya. Kepentingan bersama dapat membuat segala komponen merasa puas dan senang. Masing-masing kelompok memiliki peranan masing-masing di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

2. Mengakomodasi Sifat Prulalistik

Ditinjau dari keanekaragaman yang ada di dalam negeri ini, maka sepantasnyalah jika Indonesia merupakan bangsa dengan tinglat prulalistik terbesar di dunia. Hal inilah yang membuat bangsa kita disegani oleh bangsa lain. Namun, jika hal ini tidak dapat dipergunakan dengan baik, maka sangat mungkin akan terjadi disintegrasi di dalam bangsa.

Agama, ras, suku bangsa, bahasa, adat dan budaya yang ada di Indonesia memiliki jumlah yang tidak sedikit. Sikap saling toleran, saling menghormati, saling mencintai, dan saling menyayangi menjadi hal mutlak yang dibutuhkan oleh segenap rakyat Indonesia, agar terciptanya masyarakat yang tenteram dan damai.

3. Tidak Mencari Menangnya Sendiri

Perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah terjadi pada zaman sekarang. Apalagi ditambah dengan diberlakukannya sistem demokrasi yang menuntut segenap rakyat bebas untuk mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Oleh karena itu, untuk mencapai prinsip ke-Bhinneka-an, maka seseorang haruslah saling menghormati antar satu pendapat dengan pendapat yang lain. Perbedaan ini tidak untuk dibesar-besarkan, tetapi untuk dicari suatu titik temu dengan mementingkan kepentingan bersama. Sifat konvergen haruslah benar-benar dinyatakan di dalam hidup berbangsa dan bernegara, jauhkan sifat divergen.

4. Musyawarah untuk Mufakat
Perbedaan pendapat antar kelompok dan pribadi haruslah dicari solusi bersama dengan diberlakukannya musyawarah. Segala macam perbedaan direntangkan untuk mencapai satu kepentingan. Prinsip common denominator atau mencari inti kesamaan haruslah diterapkan di dalam musyawarah. Dalam musyawarah, segala macam gagasan yang timbul akan diakomodasikan dalam kesepakatan. Sehingga kesepakatan itu yang mencapai mufakat antar pribadi atau kelompok.

5. Dilandasi Rasa Kasih Sayang dan Rela Berkorban

Sesuai dengan pedoman sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya, rasa rela berkorban haruslah diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Rasa rela berkorban ini akan terbentuk dengan dilandasi oleh rasa salin kasih mangasihi, dan sayang menyayangi. Jauhilah rasa benci karena hanya akan menimbulkan konflik di dalam kehidupan.

Tanpa pengorbanan, sekurang-kurangnya mengurangi kepentingan pribadi dan kelompok serta mengurangi pamrih pribadi. Hal ini mutlak diperlukan.

Baiklah sobat, inilah artikel kali ini mengenai Bhinneka Tunggal Ika, semoga ilmunya bermanfaat untuk sobat sekalian.

Pengertian, Metode dan Manfaat Kultur Jaringan

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Kultur Jaringan, yang meliputi Pengertian Kultur Jaringan, Prinsip Kultur Jaringan, Tipe Kultur Jaringan, Metode Kultur Jaringan, Tahapan dan Manfaat Kultur Jaringan. Langsung saja kita masuk ke dalam pembahasannya.

PENGERTIAN KULTUR JARINGAN

Kultur jaringan merupakan suatu metode perbanyakan tanaman yang dilakukan secara vegetatif, yakni membudidayakan jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang memiliki sifat yang identik dengan induknya. Di dalam kultur jaringan, bagian tumbuhan yang sering digunakan untuk diisolasi sehingga bagian-bagian tersebut menjadi bagian yang dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap ialah protoplasma, sel, serta jaringan atau organ serba steril. Agar bagian-bagian tersebut menjadi sesuai harapan, maka bagian-bagian tersebut harus ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol steril, dan kondisi yang aseptik.

PRINSIP KULTUR JARINGAN

Dalam upaya memperbanyak tanaman yang identik dengan induknya, teknik kultur jaringan mengadopsi prinsip perkembangbiakan vegetatif secara aseptik. Maksudnya secara aseptik ialah, teknik ini dilakukan pada tempat yang steril seperti tabung kultur dengan media dan kondisi tertentu yang kemudian di pindahkan ke lingkungan hidup luar apabila telah tumbuh secara lengkap. Teori yang mendasari teknik ini ialah teori sel oleh Schwann dan Schleiden tentang sifat toripotensi sel, yaitu setiap sel tanaman yang hidup dilengkapi dengan infomasi genetik dan perangkat fisiologis yang lengkap untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman utuh jika kondisinya sesuai.

Dapat disimpulkan bahwasanya, semua organisme baru yang behasil ditumbuhkan dengan teknik kultur jaringan akan memiliki sifat yang sama persis dengan sifat induknya.

TIPE KULTUR JARINGAN

Istilah kultur jaringan merupakan sebutan umum bagi semua proses perkembangbiakan tanaman secara vegetatif dan bersifat aseptik yang memanfaatkan botol/wadah yang tembus cahaya. Dalam pelaksanaanya, terdapat beberapa teknik kultur ini, diantaranya:

a. Kultur Haploid
Kultur haploid merupakan kultur yang memanfaatkan bagian reproduksi dari tanaman sebagai eksplannya, seperti kepala sari, tepung sari, , ovule, dan lainnya sehingga dapat dihasilkan tanaman haploid.

b. Kultur Protoplasma
Kultur ini memanfaatkan sel yang telah dilepas bagian dinding selnya karena enzim sebagai eksplannya. Kultur ini dilakukan biasanya untuk kepentingan hibridisasi somatik atau fusi sel soma.

c. Kultur Suspensi
Pada kultur suspensi, yang dijadikan eksplan biasanya kalus atau jaringan meristem dalam bentuk sel ataupun agregat. Teknik ini biasanya menggunakan meda cair dengan pengocokan terus menerus menggunakan shaker.

d. Kultur Kalus
Kultur kalus merupakan teknik kultur yang eksplannya memanfaatkan sekumpulan sel, misalnya jaringan parenkim.

e. Kultur Organ
Kultur organ memanfaatkan bagian tertentu dari tanaman seperti akar, pucuk    tangkai daun, helaian daun, bunga, buah muda, buku batang, dan lainnya sebagai eksplan.

f. Kultur Biji
 Kultur biji merupakan teknik kultur dengan eksplan berupa biji atau seeding.

METODE KULTUR JARINGAN

Teknik kultur jaringan dapat dilakukan dengan beberapa metode. Macam –macam metode ini dapat ditinjau dari macam media tanam,  bahan atau eksplan yang dipakai, serta cara pemeliharaan.

Berdasarkan macam media tanam yang digunakan, metode kultur dapat dibedakan menjadi:

a. Metode Padat (Solid Method)
Metode padat merupakan teknik kultur yang memanfaatkan media padat. Media padat merupakan merupakan media yang mengandung semua komponen kimia yang dibutuhkan oleh tanaman yang kemudian dipadatkan dengan menambahkan zat pemadat. Zat tersebut dapat berupa agar-agar batangan, bubuk, atau kemasan kaleng yang biasanya digunakan untuk media padat pada kultur jaringan. Metode pada banyak digunakan untuk teknik kloning, menumbuhkan protoplasma setelah diisolasikan, dan lain sebagainya.
Artikel Penunjang : Pengertian, Sejarah dan Teknik Kloning
Perlu diketahui media yang terlalu padat dapat menyebabkan akar sukar tumbuh sebab akar sulit menembus ke dalam media sehingga proses kultur cenderung gagal.

b. Metode Cair (Liquid Method)
Metode cair merupakan teknik kultur yang memanfaatkan media cair. Media cair ini biasa berupa larutan nutrien tanpa memerlukan zat pemadat. Pembuatan media ini lebih cepat, namun kurang praktis karena apabila terlalu cair akan menyulitkan pertumbuhan eksplan menjadi kalus sehingga keberhasilan sangat minim. Pertumbuhan terssebut tidak terjadi karena eksplan cenderung tenggelanm. Oleh seba itu, metode cair biasanya hanya digunakan pada eksplan seperti suspensi sel.

Jika ditinjau berdasarkan bahan atau eksplan yang dipakai, metode kultur dibedakan menjadi:
  • Kultur Meristem
  • Kultur Antera
  • Kultur Endosperma
  • Kultur suspensi sel
  • Kultur protoplasma
  • Kultur spora, dan lain sebagainya


Cara Pemeliharaan
Agar eksplan yang ditanam dapat tumbuh dapat tumbuh menjadi kalus dan kemudiaan menjadi planlet dibutuhkan pemeliharaan yang rutin dan tepat. Dalam artian, ketika eksplan sudah waktunya dipindahkan maka harus segera dipindahkan ke lingkungan hidup luar, jika tidak pertumbuhan eksplan dapat terhenti atau mengalami browing (tekontaminasi jamur atau bakteri).

TAHAPAN KULTUR JARINGAN

Dalam membantu proses replikasi tanaman dalam jumlah banyak dengan teknik kultur jaringan harus melalui serangkaian proses ataupun tahapan. Adapun tahapan-tahapan kultur jaringan, meliputi:

1. Pembuatan Media
Media merupakan faktor penting dalam teknik kultur jaingan. Media dapat berupa vitamin, garam mineral, maupun hormon. Media yang akan digunakan biasanya harus steril, sehingga sebelum proses kultur dilakukan, media ditempatkan di tabung reaksi dan dipanaskan dengan autoklaf. Media yang diambil harus dipersiapkan di greenhouse agar bebas kontaminan jika dikultur nanti.

2. Inisiasi
Proses pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikultur serta inisiasi pertumbuhan baru disebut inisiasi. Sumber eksplan yang harus jelas jenis, spesies, varietas, serta bebas hama dan penyakit. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk keberlangsungan teknik ini adalah tunas. Setelah eksplan dipersiapkan, eksplan tersebut dikultur dengan harapan akan menginisasi pertumbuhan baru sehingga memungkinkan pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya paling kuat untuk perbanyakan tanaman pada tahap berikutnya.

3. Sterilisasi
Sterilisasi sangat penting dalam kultur jaringan. Setiap proses yang dilakukan harus di tempat yang steril, yakni di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang steril. Peralatan yang akan digunakan biasanya lebih dulu disterilisasi dengan menyemprotkan etanol. Selain itu, orang yang melakukan teknik kultur juga harus dalam keadaan steril.

4. Multiplikasi
Multiplikasi merupakan kegiatan memperbanyak calon tanaman baru dengan menanam eksplan yang telah dipilih pada media. Untuk mencegah gagal tumbuhnya eksplan proses ini sebaiknya dilakukan pada laminar flow.

5. Pengakaran
Pengakaran merupakan tahapan setelah multiplikasi, fase dimana eksplan membentuk akar dan pucuk tanaman baru yang cukup kuat sehingga dapat bertahan hidup ketika dipindahkan dari lingkungan hidup in vitro ke lingkungan luar. Peristiwa ini menandakan bahwa proses kultur berjalan dengan baik.

6. Aklimatisasi
Aklimatisasi merupakan tahapan memindahkan eksplan ke lingkungan luar dari lingkungan hidup in vitro. Pemindahan dilakukan secara hati-hati  dan bertahap, yakni dengan memberikan sungkup. Sungkup akan dilepaskan jika tanaman baru hasil kultur sudah dapat berdaptasi dengan lingkungannya. Agar tanaman baru tersebut dapat tumbuh sesuai harapan, harus dilakukan pemeliharaan yang prinsipnya cenderung serupa dengan pemiliharaan tanaman generatif.


MANFAAT KULTUR JARINGAN

Kultur jaringan memberikan begitu banyak manfaat terutama dalam replikasi tanaman yang identik dengan sel induk dalam jumlah banyak dan waktu yang relatif singkat. Namun selain peran tersebut, kultur jaringan juga memiliki beberapa manfaat lainnya, diantaranya:
  • Menghasilkan tanaman baru yang lebih unggul
  • Menghasilkan tanaman baru yang bebas virus
  • Melestarirkan plasma induk
  • Pengadaan tanaman baru tidak bergantung pada musim
  • Pengadaan tanaman baru dalam jumlah banyak dapat dilakukan dalam waktu singkat
  • Biaya pengangkutan tanaman baru biasanya lebih murah dan mudah


Meski kultur jaringan memiliki banyak memberi manfaat terhadap reproduksi tanaman secara vegetatif, namun teknik tersebut juga memiliki dampak negatif. Hal-hal tersebut dapat berupa diperlukan indivdu yang yang memiliki keahlian dalam melakukan teknik tersebut karena tanpa skill teknik tersebut cendrung gagal, modal awal untuk melalukan teknik tersebut relatif mahal, serta bibit/tanaman yang dihasilkan harus diaklimatasi terlebih dahulu karena kondisinya yang cenderung lembab dan aseptik. Oleh karena itu, penting memperhatikan indikator penting sebelum dan setelah melakukan teknik kultur jaringan agar tidak menimbulkan kerugian.

Demikian pembahasan kali ini terkait Kultur jaringan dengan fokus bahasan meliputi pengertian, prinsip, tipe, metode, tahapan, dan manfaat dari kultur jaringan. Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat.

Sumber, Bukti, dan Fakta Sejarah

Selamat datang di softilmu, Blog sederhana yang berbagi ilmu pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi ilmu tentang Sumber, Bukti, dan Fakta Sejarah. Langsung saja ke pembahasannya ya, semoga dapat bermanfaat J

A. SUMBER SEJARAH
A1. PENGERTIAN SUMBER SEJARAH
Karena sejarah merupakan ilmu yang mempelajari tentang masa lampau, maka dibutuhkan sesuatu untuk mendukung penemuan-penemuan sejarah. Penemuan-penemuan itu diperlukan agar membuktikan teori-teori yang berkembang terkait sejarah. Penemuan itulah yang dinamakan sumber sejarah. Menurut Moh.Ali, sumber sejarah ialah sesuatu baik itu berwujud atau tidak yang berguna bagi penelitian sejarah dari masa zaman purba sampai sekarang. Sedangkan menurut Muh.Yamin, sumber sejarah ialah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sumber sejarah adalah segala sesuatu baik itu dalam bentuk wujud atau tidak, yang berguna bagi perkembangan sejarah serta dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran suatu sejarah.
SUMBER BUKTI DAN FAKTA SEJARAH
A2. PEMBAGIAN SUMBER SEJARAH
Menurut bentuknya, sumber sejarah dapat dibagi menjadi 3 bentuk, yaitu sumber tulisan, sumber lisan, dan sumber benda. Berikut pengertiannya :

1. Sumber Tulisan
Merupakan sumber sejarah yang berbentuk tulisan-tulisan atau catatan-catatan peristiwa yang terjadi di masa lampau. Sumber tulisan ini dapat berupa prasasti, artefak, dokumen, naskah, babad, surat kabar, dan lain-lain.

2. Sumber lisan
Sumber lisan merupakan sumber sejarah yang dipaparkan langsung dari pelaku sejarah pada saat terjadinya sejarah tersebut. Misalnya, veteran mantan tentara kemerdekaan yang masih hidup, beliau menceritakan kronologis peristiwa yang sesungguhnya kepada khalayak umum. Sumber lisan juga dapat berupa cerita rakyat, namun sumber dalam bentuk ini masih diragukan keasliannya.

3. Sumber Benda
Merupakan sumber sejarah yang diperoleh dalam bentuk benda-benda peninggalan sejarah. Contohnya, kapak, patung, gerabah, kyoken moddinger, dan lain-lain. Sumber sejarah berbentuk benda belum dapat sepenuhnya menceritakan kejadian sejarah dengan benar, karena masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut oleh para ahli arkeologi.

4. Sumber rekaman
Merupakan sumber sejarah dalam bentuk rekaman suara atau gambar. Misalnya rekaman video tentang tuntutan mahasiswa saat reformasi berlangsung.

Dalam penggunannya, sumber sejarah memiliki tingkat keaslian yang berbeda-beda. Dalam hal ini, sumber sejarah dibedakan menjadi 3, yaitu sumber primer dan sumber sekunder, serta sumber Tersier

1. Sumber primer
Merupakan sumber sejarah yang paling kuat untuk dijadikan landasan pembuktian sejarah. Sumber primer dapat berupa penuturan langsung oleh pelaku sejarah, benda sejarah yang diakui oleh ahli, baik itu candi, prasasti, dan sebagainya.

2. Sumber sekunder
Merupakan sumber sejarah yang lemah penggunannya untuk membuktikan sejarah. Sumber sekunder dapat berasal dari penuturan orang yang bukan pelaku langsung sejarah atau saksi, maupun jurnal-jurnal tentang suatu sejarah.

3. Sumber tersier
Merupakan sumber sejarah yang tersusun dalam bentuk buku-buku sejarah yang disusun berdasarkan laporan penelitian ahli sejarah, tanpa melakukan penelitian lanjutan.

Sumber sejarah juga memerlukan ketepatan usia untuk dapat membuktikan dan menselaraskan antara penemuan-penemuan dengan teori yang berkembang. Dalam menentukan usia suatu sumber sejarah, maka dibedakan menjadi 3 cara, yaitu :

1. Kimiawi
Yaitu penentuan usia sumber sejarah berdasarkan unsur-unsur kimia yang terkandung di dalam penemuan sumber sejarah tersebut.

2. Tipologi
Yaitu usia suatu sumber sejarah ditentukan dengan bentuk atau tipe yang ditemukan dari peninggalan sejarah tersebut.

3. Stratifigrafi
Yaitu penentuan usia sumber sejarah berdasarkan lapisan tanah yang terkandung pada sumber-sumber sejarah tersebut.

Seiring dengan kemajuan teknologi untuk mendapatkan seumber sejarah yang berkualitas maka memerlukan ilmu bantu sejarah, antara lain :
1. Numismatic adalah ilmu yang mempelajari mata uang kuno
2. Filologi adalah ilmu yang mempelajari tentang naskah kuno
3. Paleografi adalah ilmu yang mempelajari tulisan kuno
4. Jronologi adalah ilmu yang mempelajari urutan peristiwa
5. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari benda-benda purbakala
6. Geologi adalah ilmu yang mempelajari struktur lapisan buki dan sejarah terjadinya bumi

B. BUKTI DAN FAKTA SEJARAH
B1. BUKTI SEJARAH
Bukti merupakan segala sesuatu yang memperkuat kebenaran suatu pendapat tentang proses sejarah. Maka dalam ilmu sejarah, bukti sejarah ialah jejak-jejak peninggalan perbuatan pada masa lampau yang dapat memperkuat pernyataan-pernyataan tentang proses sejarah. Bukti sejarah bisa berbentuk tulisan maupun non-tulisan. Biasanya, bukti-bukti sejarah dapat memenuhi kaidah 5W1H (What, Where, Who, When, Why, and How).

B2. FAKTA SEJARAH
Fakta sejarah ialah segala sesuatu yang menjadi kenyataan berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ditemukan. Atau dengan kata lain, akibat dari ditemukannya bukti, maka muncullah fakta. Fakta sejarah dapat dibedakan menjadi 5 macam, yaitu :

a. Fakta benda
Yaitu fakta sejarah berupa benda-benda peninggalan masa lampau yang mendukung untuk dilakukannya aktifitas pada masa lampau. Contohnya tombak, kapak lonjong, pisau dari tulang, dan kerajinan tangan lain

b. Fakta mental
Yaitu fakta sejarah yang tidak berwujud yang merupakan bentuk pemahaman manusia pada masa lampau. Bentuk pemahaman disini ialah kepercayaan dan keyakinan yang dianut. Fakta mental erat kaitannya dengan kejadian batin pada manusia. Fakta mental juga merupakan suatu fakta yang dapat menggambarkan suasana pikiran, perasaan batin, dan sikap yang mendasari suatu karya cipta. Contoh : candi, menhir, moko, dan sebagainya

c. Fakta sosial
Yaitu suatu fakta sejarah berdasarkan perilaku individu maupun kelompok yang digunakan untuk menunjang kegiatan sosial antar manusia masa lampau. Fakta sosialmampu menggambarkan suasana zaman tersebut, serta menunjukkan suatu kemajuan dan keterampilan pada suatu system kemasyarakatan. Contoh : penggunaan mata uang, peralatan rumah tangga, dan lain-lain.

d. Fakta lunak
Merupakan fakta sejarah yang masih belum jelas dan lengkap asal-usul maupun kebenarannya. Fakta lunak masih membutuhkan temuan-temuan lebih lanjut untuk memperjelas kebenaran dari sejarah tersebut. Contoh : peristiwa pembantaian rakyat Aceh oleh tentara Indonesia masih belum jelas siapa pelakunya, dan lain sebagainya.

e. Fakta keras
Merupakan fakta sejarah yang tidak dapat diragukan lagi kebenaran dan keasliannya. Fakta keras sudah terbukti benar, dan tidak dapat terbantahkan. Contoh : peristiwa reformasi 1998, peristiwa proklamasi, dan lain-lain


Nah itulah postingan kami kali ini tentang Sumber, Bukti dan Fakta Sejarah, Semoga dapat bermanfaat bagi sahabat. Apabila masih ada yang belum dimengerti, silahkan ditanyakan pertanyaannya melalui kotak komentar di bawah ini. Kami akan berusaha merespon dengan cepat dan tepat. Terimakasih telah berkunjung di softilmu, jangan lupa like, follow, dan komentarnya. 

Rabu, 16 Desember 2015

Pengertian, Ciri, dan Klasifikasi Tumbuhan Paku (Pteridophyta)

Postingan kali ini membahas tentang Tumbuhan Paku (Pteridophyta) dengan fokus bahasan meliputi pengertian, ciri-ciri, klasifikasi, dan manfaatnya. Mari simak uraian berikut dengan seksama.

A. PENGERTIAN TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA)
Tumbuhan paku disebut juga Pteridophyta. Tumbuhan paku merupakan tumbuhan dengan tingkatan lebih tinggi dari lumut karena memiliki akar, daun, dan batang sejati. Selain itu, meskipun habitat utama tumbuhan paku pada tempat yang lembab (higrofit), namun tumbuhan paku juga dapat hidup diberbagai tempat seperti di air (hidrofit), permukaan batu, tanah, serta dapat juga menempel (epifit) pada pohon.

B. CIRI – CIRI TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA)
Berikut ini beberapa ciri-ciri tumbuhan paku, diantaranya meliputi:
  • Organisme multiseluler dan eukariotik
  • Sudah memiliki akar, daun dan batang sejati, sehingga disebut kormophyta berspora.

a. Struktur Akar
Akar tumbuhan paku berbentuk serabut dengan kaliptra pada ujungnya. Jaringan akarnya terdiri dari epidermis, korteks, dan silinder pusat.

b. Struktur Batang
Serupa halnya dengan jaringan akarnya, struktur batang tumbuhan paku juga terdiri dari epidermis, korteks, dan silinder pusat. Pada silinder pusat tersebut terdapat berkas pembuluh angkut, yaitu xilem dan floem. Berkas pembuluh ini berperan dalam proses fotosintesis dan mengedarkan hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.

c. Struktur Daun
Struktur daun tumbuhan paku terdiri atas jaringan epidermis, mesofil, dan pembuluh angkut. Sedangkan jenis tumbuhan paku sendiri terdiri atas berbagai macam, meliputi:
Jika ditinjau dari ukuran daun, maka daun tumbuhan paku ada yang berukuran kecil (mikrofil) dan berukuran besar (makrofil). Daun mikrofil tidak bertangkai dan tidak bertulang, serta bebentuk rambut atau sisik. Sedangkan daun makrofil bertangkai, bertulang daun, jarngan tiang, bunga karang, dan juga memiliki mesofil dengan stomata, serta bebentuk
Jika ditinjau dari fungsinya, daun tumbuhan paku ada yang menghasilkan spora (sporofil) dan tidak menghasilkan spora (tropofil). Daun tropofil disebut sebagai daun steril dan memiliki klorofil sehingga berperan dalam proses fotosintesis dalam menghasilkan glukosa. Sedangkan daun sporofil disebut sebagai daun fertil karena menghasilkan spora sebagai alat perkembangbiakan.
  • Umumnya habitat tumbuhan paku pada tempat yang lembab, bisa di darat, perairan, ataupun menempel.
  • Tumbuhan paku dapat bereproduksi secara seksual maupun secara aseksual.
  • Tumbuhan paku bersifat fotoautotrof, karena memiliki klorofil sehingga dapat berlangsungnya proses fotosintesis.
  • Dalam siklus hidup tumbuhan paku, pada fase metagenesis terdapat fase sporofit yaitu tumbuhan paku sendiri. Fase sporofit pada metagenesis memiliki sifat yang lebih dominan dibandingkan fase gametofitnya.


C. KLASIFIKASI TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA)
Tumbuhan paku (Pteridophyta) dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelas apabila ditinjau dari morfologi tubuh, diantaranya yaitu:
a. Psilophyta (paku kurba/paku telanjang)
Psilophyta (paku kurba/paku telanjang)
Tumbuhan paku kelas ini belum memiliki daun dan akar, namun batangnya sudah memiliki berkas pengangkut, bercabang-cabang dengan sporangium diujungnya. Sporofil mengandung satu jenis spora, dikenal dengan istilah homospora. Contohnya, Rhynia Major dan Psylotum sp

b. Equisetophyta/ Sphenophyta
Equisetophyta/ Sphenophyta
Tumbuhan paku kelas ini memeiliki batang yang mirip dengan ekor kuda, memiliki daun mirip kawat, dan daunnya tersusun dalam satu lingkaran. Tumbuhan paku kelas ini dikenal juga dengan sebutan paku ekor kuda.
Contohnya, Equisetum debile.

c. Lycophyta (paku kawat/paku rambat)
Lycophyta (paku kawat/paku rambat)
Kelas Lycophyta, tumbuhan paku berdaun kecil, tersusun spiral, batang seperti kawat, sporangium terkumpul dalam strobilus dan muncul pada ujung ketiak.
Contohnya, Lycopodium sp (paku rane), Lycopodium clavatum (paku kawat), Selaginella sp.

d. Filicinae/Pterophyta (paku sejati)
Tumbuhan paku kelas ini sudah lebih tinggi tingkatannya dibanding kelas sebelumnya. Kelas Pterophyta sudah memiliki akar, batang, dan daun sejati. Daun tumbuhan ini berukuran besar sehingga disebut megafil. Batangnya dapat tumbuh di atas maupun di bawah tanah. Karakteristik klas kelas ini ialah daun mudanya menggulung (circinnatus) dan terdapat sorus di bagian permukaan bawah daun.
Contohnya, Asplenium nidus (paku sarang burung), Salvinia natans (paku sampan), Adiantum farleyense (ekor merak), dan lainnya.

 Berdasarkan jenis sporanya, tumbuhan paku dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Paku Homospora
Tumbuhan paku homospora menghasilkan spora dengan ukuran yang sama  dan tidak dapat dibedakan antara spora jantan dan spora betina. Tumbuhan jenis ini dikenal juga dengan sebutan paku isospora.
Contohnya, Lycopodium sp (paku kawat).

2. Paku Heterospora
Tumbuhan paku jenis ini menghasilkan spora yang berbeda ukuran sehingga disebut an-isospora. Spora jantan disebut mikrospora karena berukuran kecil, sedangkan spora betina berukuran lebih besar sehingga disebut makrospora. Contohnya, Selaginella sp (paku rane).

3. Paku Peralihan
Paku peralihan merupakan tumbuhan paku dengan jenis kelamin yang berbeda, namun ukuran sporanya sama.
Contohnya, Equisetum debile (paku ekor kuda).

D. MANFAAT TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA)
Dalam kehidupan sehari-hari, tumbuhan paku cukup berperan penting meskipun masih banyak orang yang tidak mengetahui fungsi tanaman tersebut. Berikut ini beberapan fungsi tanaman paku, meliputi:

1. Tanaman Hias
Banyak tanaman paku yang digunakan sebagai tanaman hias dalam kehidupan. Misal, Adiantum Cuneatum (suplir), Asplenium nidus (paku sarang burung), dan Platycerium biforme (paku simbar menjangan).

2. Sayuran
Tumbuhan paku yang dimanfaatkan sebagai sayuran misalnya Marsilea crenata (semanggi) dan Pteridium aquilinum (paku garuda).

3. Pupuk Hijau
Tumbuhan paku yang banyak dimanfaatkan sebagai pupuk hijau ialah Azolla pinnata yang bersimbiosis dengan Anabaena azolleyang mampu mengikat gas N2 bebas.

4. Obat-Obatan
Tumbuhan paku ada yang digunakan sebagai obat diuretik yaitu Equisetum (paku kuda) dan digunakan sebagai obat luka yaitu Selaginella.

5. Bahan Bangunan
Tumbuhan paku yang banyak digunakan untuk pembuatan tiang bangunan ialah Alsophila glauca.

6. Alat Penggosok/Pembersih
Equisetum sp banyak dimanfaatkan sebagai alat penggosok/ampelas.

7. Bahan Pembuatan Petasan
Bahan pembuatan petasan yang sering digunakan ialah spora Lycopodium sp dan Pyrotechnics.

8. Bingkai
Tumbuhan paku juga banyak digunakan sebagai bingkai dalam karangan bunga.

Meskipun tumbuhan paku memiliki banyak fungsi dalam kehidupan seperti yang telah dipaparkan diatas bukan berarti tidak ada yang menimbulkan kerugian. Sehingga, diperlukan pengetahuan tentang klasifikasi tumbuhan paku dan peranannya sehingga tidak menimbulkan kerugian yang tidak diinginkan dalam kehidupan.


Demikian pembahasan kali ini terkait dengan Tumbuhan Berbiji (Pterydophyta) dengan fokus bahasan meliputi pengertian, ciri-ciri, klasifikasi, dan manfaatnya. Semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat. Terimakasih telah berkunjung di softilmu, jangan lupa like, follow, dan komentarnya ya J