Tampilkan postingan dengan label Keterampilan Klinis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keterampilan Klinis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2015

Pengertian, Prinsip, dan Metode Pemeriksaan Fisik Umum

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Pengertian, Prinsip, dan Metode Pemeriksaan Fisik Umum, langsung saja kita masuk ke dalam pembahasannya.

PENGERTIAN PEMERIKSAAN FISIK UMUM

Pemeriksaan fisik adalah salah satu elemen penting dari proses menentukan diagnosis sebuah penyakit. Diagnosis dilakukan untuk mengetahui penyakit pasien, agar dapat memberikan terapi yang tepat pada pasien tersebut.

Pemeriksaan fisik adalah komponen pengkajian kesehatan yang bersifat objektif yang dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan pada tubuh pasien dengan melihat keadaan pasien (inspeksi), meraba suatu sistem atau organ yang hendak diperiksa (perkusi), mengetuk suatu sistem atau organ yang hendak diperiksa (palpasi), dan mendegarkan menggunakan stetoskop (auskultasi).

URUTAN DIAGNOSIS

Anamnesis

Anamnesis adalah pemeriksaan tahap awal yang dilakukan dengan wawancara dan dapat membantu menegakkan diagnosa hingga 80%, anamnesis ini bersifat subjektif.
Tujuannya untuk menegakkan gambaran kesehatan pasien secara umum, dan mengetahui riwayat penyakit pasien.

Anamnesis dapat dilakukan langsung kepada pasien (autoanamnesis) atau terhadap keluarga atau kerabat terdekat pasien (hetero/alloanamnesis)

Pada anamnesis yang perlu ditanyakan adalah:

1. Identitas Pasien : Terkait nama, umur, alamat, pekerjaan, dll
2. Anamnesis penyakit : Keluhan utama, riwayat penyakit sekarang (onset, frekuensi, sifat, waktu, durasi, lokasi), riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga (keturunan/penularan), keluhan tambahan, riwayat pekerjaan.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dimulai dengan menilai keadaan umum, tanda vital, menilai status mental dan cara berfikir, juga menilai langsung sistem atau organ yang berkaitan dengan keluhan pasien dengan:
1. Inspeksi
2. Palpasi
3. Perkusi
4. Auskultasi

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan ini bertujuan untuk membantu diagnosa ketika anamnesis dan pemeriksaan fisiknya belum mendapatkan hasil. Dan juga dapat dilakukan untuk memastikan diagnosa meskipun anamnesi dan pemeriksaan fisiknya sudah mencapai titik terang.

Contoh dari pemeriksaan penunjang seperti:

  1. Pemeriksaan laboratorium : untuk menilai sel-sel darah, urin, feses
  2. Kultur bakteri : untuk mengetahui bakteri penyebab infeksi, dan untuk menentukan antibiotik serta resistensinya.
  3. Radioimaging : seperti CT-Scan, MRI, rontgen untuk mengetahui langsung bagian dalam tubuh yang terkait dengan penyakit.


PRINSIP DASAR PEMERIKSAAN FISIK

Tujuan umum pemeriksaan fisik adalah untuk memperoleh informasi mengenai status kesehatan pasien. Tujuan definitifnya adalah untuk mengindentifikasi status “normal” dan kemudian mengetahui adanya kelainan dari keadaan normal tersebut dengan memvalidasi keadaan dan keluhan dari gejala pasien. Skrining keadaan pasien, dan pemantauan masalah kesehatan pasien saat ini. Informasi ini penting untuk menjadi catatan/rekam medis (medical record) pasien, menjadi dasar data awal dari temuan klinis, bahkan selalui diperbarui dan ditambahkan sepanjang waktu untuk mengetahui riwayat penyakit dari pasien.

Informasi dapat bersifat subyektif maupun obyektif. Informasi subyektif didapatkan dari anamnesis terhadap pasien, sedangkan informasi obyektif didapatkan dengan pemeriksaan fisik pada pasien.temuan klinis obyektif ini akan memperkuat dan menjelaskan data subyektif yang diperoleh pada anamnesis, tetapi juga pada saat yang sama, pemeriksaan fisik akan membuat pemeriksa bertanya lebih lanjut pada saat pemeriksaan berlangsung.

Penentuan metode pillihan pada pemeriksaan fisik dipengaruhi oleh usia. Misalkan pada usa remaja (12-19 tahun) senaiknya menjalani pemeriksaan fisik setiap 2 tahun. Individu dewasa (20-59 tahun) sebaiknya menjalani pemeriksaan fisik setiap 5-6 tahun, dan orang lanjut usia (>60 tahun) sebaiknya melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh tiap 2 tahun

Metode tersebut juga dipengaruhi oleh gejala, data fisik, dan laboratorium lainnya, serta tujuan pemerikaan itu sendiri (misalnya screening fsik umum, pemeriksaan fisik spesifik, atau analisi gejala-gejala). Pemeriksaan penapisan/screening misalnya mammografi (foto payudara untuk mengetahui kanker), pap smear (menilai kelainan pada alat vital wanita), uji darah pada feses sebaiknya dilakukan lebih teratur. Kunjungan berikutnya atau tindak lanjut merupakan kunjungan yang terjadwal untuk mengkaji progresivitas atau kesembuhan dari suatu masalah atau kelainan tertentu.

METODE PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik diawali dengan penilaian keadaan umum pasien, yang meliputi:
·        Ekspresi wajah
Apakah pasien menahan sakit, sesak, atau diam dan tenang-tenang saja

·        Gaya berjalan
Nilai apakah ada kelainan, seperti jalan terseok-seok, kecepatan yang menurun, langkah terlalu kecil, dll.

·        Tanda spesifik lain
Nilai apakah tampak adanya luka ataupun memar, nilai kelainan lain yang langsung tampak

·        Keadaan gizi
Dilakukan pengukuran BB (berat badan) dan TB (tinggi badan).
IMT (indeks massa tubuh) = BB(kg) / TB2 (m)
Klasifikasi IMT :
BB kurang                   <18,5
BB normal                  18,5-22,9
BB lebih                      >23
            Dgn resiko      23-24,9
            Obes I             25-29,9
            Obes II            >30

·        Status mental
Nilai tingkah laku, perasaannya, dan juga cara berfikir. Lakukan interaksi sederhana bisa dengan menanyakan orientasi tempat, waktu. Dan juga aktifitas sehari-hari. Nilai apakah terdapat penurunan fungsi berfikir atau tidak.

·        Bentuk badan
Nilai kelainan bentuk tulang belakang seperti kifosis, lordosis, skoliosis. Nilai bentuk dadanya secara keseluruhan, nilai juga kelainan bentuk (malformasi) yang terdapat sejak lahir (kongenital)

·        Cara bergerak (mobilitas)
Aktif dan dapat memiringkan badannya tanpa kesulitan. Dapat memberi petunjuk pada beberapa penyakit seperti tulang sendi atau saraf. Juga dapat mengetahui kelainan jantung juga paru-paru yang mana pasien lebih nyaman dalam keadaan bersandar.

·        Pemeriksaan tanda vital
Terdiri atas:
  • Kesadaran: nilai dengan menggunakan GCS (glasgow coma scale), yang mana keadaan pasien sadar penuh (compos mentis) dengan nilai GCS nya 15. Dibawah itu maka pasien mengalami penurunan kesadaran.
  • Suhu: dengan menggunakan termometer, letakkan pada ketiak selama satu menit. Normal suhu adalah 36,6 -36,2 derjat celsius.
  • Tekanan darah : dengan menggunakan sphygmomanometer atau yang biasa disebut dengan tensimeter. Yang mana nilai normal nya adalah 120/80 mmHg
  • Nadi : dengan cara meraba pada arteri radialis, yang terletak pada pergelangan tangan dibawah ibu jari. Denyut nadi ini sama dengan denyut jantung, yang mana nilai normalnya adalah 60-100 x permenit.
  • Napas : dengan cara melihat, atau meletakkan tangan pada dada pasien, dan menghitung berapa kali pasien bernafas selama satu menit. Normalnya yaitu 16-20 x permenit


Untuk melakukan pemeriksaan fisik pada sistem terkait, misalkan pemeriksaan fisik paru, jantung, perut. Terdapat empat teknik yang dilakukan seluruh dunia, yaitu : inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi. Teknik-teknik ini dilakukan dengan memfokuskan pada indera penglihatan, pendengaran, sentuhan dan penciuman. Data dikumpulkan berdasar semua indera tersebut secara simultan untuk membentuk informasi yang sempurna.

  • Inspeksi

Yaitu melihat dan mengevaluasi pasien secara visual. Sebagai individu, kita selalu menilai orang lain setiap hari, dan membangun kesan mengenai orang lain. Secara tidak kita sadari, sebenarnya kita telah melakukan inspeksi.

Prinsipnya yaitu, pemeriksa menggunakan fokusnya pada indera penglihatan untuk berkonsentrasi melihat keadaan pasien secara menyeluruh, dan teliti. Sejak pertama kali pasien masuk ke ruang dokter, inspeksi sudah dilakukan. Untuk lebih jelas, membenarkan apa yang dilihat oleh mata akan dikaitkan dengan suara yang terdengar atau bau yang berasal dari pasien. Kemudian informasi dikumpulkan oleh semua indera tersebut menjadi sebuah informasi yang bermakna.

  • Palpasi

Yaitu menyentuh atau merasakan dengan tangan, biasanya yang digunakan adalah tangan sebelah dalam, yaitu dekat dengan telunjuk atau juga bisa menggunakan pads (ujung jari). Palpasi diperlukan untuk menambah data yang telah didapat melalui inspeksi sebelumnya. Palpasi dilakukan baik pada permukaan maupun dalam rongga tubuh, terutama pada abdomen (perut)  akan memberikan informasi mengenai posisi, ukuran, bentuk, konsistensi, dan mobitas (gerakan) komponen struktur tubuh (anatomi) pada perut yang normal. Apakah teraba kelainan seperti pembesaran organ maupun massa yang dapat teraba. Palpasi ini juga efektif untuk menilai cairan dalam ruang tubuh.


Pads atau ujung jari pada bagian  ujung ruas interphalangeal (ruas jari) paling baik digunakan untuk palpasi, karena ditempat tersebut terdapat ujung saraf peraba yang letaknya saling berdekatan, sehingga dokter akan lebih mudah merasakan apa yang disentuh. Pengukuran kasar suhu tubuh digunakan dengan bagian punggung (dorsum) tangan. Posisi ukuran dan struktur otgan yang diraba dapat diidentifikasi menggunakan tangan. Vibrasi/getaran dapat mudah terdeteksi oleh permukaan telapak tangan.

  •  Perkusi

Yaitu menepuk permukaan tubuh baik secara ringan maupun tajam. Untuk menentukan posisi, ukuran, dan densitas struktur atau cairan maupun udara dibawahnya. Menepuk dari permukaan akan menghasilkan gelombang suara yang masuk secara vertikal sepanjang 5-7 cm dibawah organ yang diketuk tadi, pantulan suara yang dihasilkan akan berbeda beda tergantung sifat struktur yang dilewati oleh suara itu, apakah padat, berisi cairan, maupun berisi udara.


Prinsipnya yaitu jika suatu organ berisi lebih banyak udara (seperti paru-paru) maka suara yang dihasilkan yaitu  suara yang lebih keras, rendah dan panjang (suara sonor), jika dibandingkan dengan organ yang lebih padat (misalnya otot paha), akan menghasilkan suara yang lebih lembut, tinggi dan pendek (suara pekak). Pada perkusi yang dilakukan pada organ yang berongga (seperti perut), akan menghasilkan suara dengan nada tinggi dan lebih lama terdengar (suara timpani).

  •  Auskultasi

Yaitu ketrampilan untuk mendengar suara tubuh pada paru-paru, jantung, pembuluh darah dan bagian dalam/viscera abdomen. Pada umumnya, auskultasi ini merupakan teknik terakhir yang dilakukan pada suatu pemeriksaan fisik, akan tetapi pada pemeriksaan fisik abdomen (perut), biasanya auskultasi dilakukan setelah melakukan inspeksi, karena ditakutkan terjadinya perubahan suara gerakan usus (peristaltik) jikalau dilakukan setelah palpasi dan perkusi. Suara-suara penting yang terdengar saat auskultasi adalah suara gerakan udara dalam paru-paru, yang mana ketika udara melewati rongga menuju paru. Juga untuk mendengarkan bunyi usus yang berada pada rongga perut. Kemudian untuk mendengarkan aliran darah yang melalui sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Suara pada auskultasi dijelaskan dengan frekuensinya, intensitasnya (keras lemahnya), durasinya, kualitas dan juga waktunya.


Auskultasi dilakukan dengan stetoskop. Stetoskop meneruskan suara melalui ujung alat (endpiece), tabung pipa (tubing), dan bagian ujung yang diletakkan di telinga (earpiece). Dan penting menghilangkan suara dari luar yang dapat mengganggu interpretasi.

Bagian ujung stetoskop terdapat diafragma dan bel. Diafragma digunakan untuk meningkatkan suara yang tinggi pitch-nya (frekuensi), misalnya suara nafas yang terdengar dari paru-paru dan suara usus yang terdengar dari perut dan ketika mendengarkan suara jantung yang normal. Bel digunakan khususnya untuk suara dengan pitch-rendah seperti suara-suara murmur jantung (bunyi tambahan pada detak jantung), turbulensi aliran darah didalam arteri (suara bruits) atau vena (suara hums). Karena aliran darah memberikan suara dengan pitch yang rendah, bel juga digunakan untuk mengukur tekanan darah. Akan tetapi diafragma juga sering digunakan untuk mendengarkan bunyi ketika memeriksa tekanan darah pasien.

POSISI PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik dilakukan dalam posisi tertentu, tergantung sistem maupun organ mana yang hendak dinilai. Misalkan pada pemeriksaan fisik jantung, pasien diposisikan dengan posisi kepala lebih tinggi, pada pasien pemeriksaan fisik genitalia, pentingnya dilakukan posisi lithotomy. Akan tetapi banyak pemeriksaan dilakukan dalam posisi duduk maupun tidur terlentang (supinasi).


JENIS-JENIS PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik dapat dilakukan secara khusus, yaitu tergantung terhadap organ maupun sistem spesifik yang sesuai dengan keluhan pasien, pemeriksaan fisik tersebut sesuai namanya dengan sistem maupun organ yang dilakukan pemeriksaan. Contohnya seperti:




Baiklah sobat, inilah pembahasan kali ini mengenai Pengertian, Prinsip, dan Metode Pemeriksaan Fisik Umum, semoga bermanfaat bagi sobat semuanya J

Kamis, 12 November 2015

Bunyi Pernapasan Normal dan Tambahan

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Bunyi Pernapasan Normal dan Tambahan. Jenis bunyi pernapasan ini ada yang bersifat normal dan ada yang bersifat abnormal. Langsung saja kita masuk ke pembahasannya.


Bunyi Pernapasan Normal
Bunyi pernapasan normal terdiri dari fase menarik napas (inspirasi) dan menghembuskan napas (ekspirasi). Bunyi napas normal ada 4 bunyi, antara lain:

Trakeal
Trakeal mempunyai ciri-ciri yaitu bunyinya sangat kasar dan keras serta tinggi dan terdengar kira-kira pada bagian trakea pada ekstratoraks. Panjang bunyinya sama antara inspirasi dan ekspirasi. Namun, bunyi trakeal ini jarang dinilai karena tidak mencerminkan adanya masalah klinis pada paru.

Bronkial
Bunyi Bronkial mempunyai ciri-ciri yaitu bunyinya keras dan nadanya tinggi, bila diibaratkan seperti udara yang mengalir di dalam pipa. Panjang bunyi ekspirasinya lebih lama dibandingkan inspirasinya dan ada jeda di antara kedua fase itu. Bunyi ini dapat didengar di daerah manubrium sterni.

Bronkovesikuler
Bunyi bronkovesikuler bisa dikatakan adalah campuran dari bunyi bronkial dan bunyi vesikuler. Panjang ekspirasi dan inspirasinya sama panjang. Biasanya dapat didengar pada sela iga pertama dan kedua di dada depan dan jika ingin mendengar di dada belakang maka dengar di antara skapula. Bunyi ini berada di dekat karina dan bronkus utama.

Vesikuler
Bunyi vesikuler adalah bunyi yang lemah dan nadanya rendah, biasanya bisa didengar di semua bagian parenkim paru. Panjang inspirasi lebih panjang dibandingkan ekspirasi.


Pada saat auskultasi, maka harus didengar bunyi berikut ini:
  • Suara napas, yaitu suara napas yang normal, bisa vesikuler, bronkial, trakeal, atau bronkovesikuler
  • Suara napas tambahan, bisa berasal dari bagian paru, pleura atau pun mediastinum
  • Suara berbisik, pemeriksa meminta pasien untuk mengucapkan beberapa kata dengan berdesis. Normalnya tidak akan terdengar di bagian parenkim paru.
  • Suara percakapan, normalnya juga tidak akan terdengar di bagian parenkim paru, namun bila terdengar maka akan disebut sebagai Bronkofoni positif.
Artikel Penunjang : Pengertian, Prinsip, dan Metode Pemeriksaan Fisik Umum
Bunyi Pernapasan Tambahan
Rales
Dibagi menjadi 3 yaitu Rales Halus, Sedang, Kasar:
  • Rales Halus : cirinya yaitu bersifat terus-menerus, bernada tinggi, bunyi gemesir halus terdengar di akhir inspirasi yang menunjukkan adanya cairan di alveoli. Penyebabnya bisa akibat Penumonia dan gagal jantung kongestif.
  • Rales Sedang : cirinya yaitu bersifat terus-menerus, basah, nadanya sedang, terdengar di awal atau tengah inspirasi, bisa hilang dengan batuk, menunjukkan adanya cairan di dalam bronkus dan bronkiolus. Penyebabnya bisa akibat edema paru.
  • Rales Kasar : cirinya yaitu bunyinya keras, bergelembung, nadanya rendah, terdengar saat ekspirasi, hilang dengan batuk, menunjukkan adanya cairan di dalam bronkus dan bronkiolus. Penyebabnya bisa akibat pneumonia dengan gejala paru yang sudah mereda atau bronkitis.


Ronki (Mengi)
Dibagi menjadi dua, yaitu ronki sonor dan ronki sibilant:
  • Ronki Sonor: cirinya yaitu bunyinya kontinu, seperti mendengkur, nadanya rendah, terdengar di seluruh fase pernapasan, hilang dengan batuk, mencerminkan adanya keterlibatan bronkus dan trakea. Penyebabnya bisa akibat bronkitis.
  • Ronki Sibilant: cirinya adalah bunyinya kontinu, musikal, bernada tinggi, terdengar di tengah sampai akhir ekspirasi, mencerminkan adanya edema dan obstruksi jalan napas, mungkin terdengar dengan pemeriksaan auskultasi. Penyebabnya adalah asma.



Jika mengi yang terdengar pada saat inspirasi, maka penyebabnya adalah obstruksi tinggi. Jika terdengar pada saat ekspirasi maka bunyinya seperti bersiul, keras, bernada tinggi, dan penyebabnya adalah obstruksi rendah.

Pleural friction rub : bunyinya seperti memarut, menggosok keras, nada yang tinggi mungkin terdengar saat inspirasi atau ekspirasi. Penyebabnya akibat permukaan pleura yang meradang.

Baiklah sobat, inilah artikel kali ini mengenai Bunyi Pernapasan Normal dan Tambahan, semoga bermanfaat bagi teman-teman semua.



Pemeriksaan Fisik Paru-Paru

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Pemeriksaan Fisik Paru-Paru. Sebelumnya teman-teman harus mengetahui mengenai anatomi paru-paru serta fungsinya. Untuk kedua artikel di atas teman-teman bisa mengunjungi artikel di bawah ini.


Langsung saja kita masuk ke dalam pembahasannya.

Pemeriksaan fisik paru dilakukan dengan memeriksa bagian dada anterior (depan) dan dada posterior (belakang). Biasanya pemeriksaan dilakukan dari dada posterior dahulu yaitu pasien diminta untuk duduk dan kedua lengan dilipat dan diletakkan di atas pangkuannya atau seperti memeluk diri sendiri. Bila pemeriksaan dada posterior sudah selesai dilakukan, pasien diminta untuk berbaring dan pemeriksaan dada anterior dimulai. Selama pemeriksaan, pemeriksa harus membayangkan daerah paru-paru di bawahnya. Jika pasiennya laki-laki, pakaiannya harus dibuka sampai sebatas pinggang. Jika wanita, pakaiannya harus diatur sedemikian rupa untuk mencegah pemaparan payudara yang tidak perlu dan memalukan. Pemeriksa berdiri menghadap pasien. Pemeriksaan dada anterior dan posterior mencakup:
Artikel Penunjang : Pengertian, Prinsip, dan Metode Pemeriksaan Fisik Umum
INSPEKSI
Inspeksi Ekspresi Wajah Pasien
Memperhatikan ekspresi wajah pasien seperti: pasien dalam keadaan akut, cuping hidung mengambang, bernapas dengan bibir dikerutkan, tanda-tanda sianosis, tanda-tanda pernapasan yang dapat didengar seperti stridor atau whezzing (berhubungan dengan obstruksi udara).

Inspeksi Sikap Tubuh Pasien
Pasien dengan obstruksi saluran pernapasan cenderung memilih posisi di mana mereka dapat menyokong lengan dan memfiksasi otot-otot bahu dan leher untuk membantu respirasi. Suatu teknik yang lazim dipakai pasien dengan obstruksi bronkus adalah memegang sisi-sisi tempat tidur dan memakai muskulus latissimus dorsi untuk mengatasi meningkatnya tahanan terhadap aliran keluar selama ekspirasi. Pasien dengan orthopneu duduk atau berbaring di atas beberapa bantal.

Inspeksi Tangan
Penemuan jari tabuh atau hilangnya sudut antara kuku dengan falang terminal. Jari tabuh berkaitan degan sejumlah gangguan klinis, antara lain:
  • Tumor intra thorak
  • Jalan pintas campuran vena ke arteri (AV shunt)
  • Penyakit kronis paru
  • Fibrosis hati kronis


Jari tabuh

Inspeksi Leher
Pemakaian otot-otot tambahan merupakan suatu tanda paling dini adanya obstruksi saluran pernapasan. Pada distress pernapasan, muskulus trapezius dan sternocleidomastoideus berkontraksi selama inspirasi. Otot-otot tambahan membantu dalam ventilasi karena mereka mengangkat klavikula dan dada anterior untuk meningkatkan volume paru-paru dan memperbesar tekanan negatif di dalam thoraks. Ini menyebabkan retraksi fossa supraklavikular dan otot-otot interkostal. Gerakan ke atas klavikula lebih dari 5 mm selama pernapasan berkaitan dengan penyakit obstruktif paru-paru yang berat.

Inspeksi Konfigurasi Dada
Berbagai macam keadaan dapat mengganggu ventilasi yang memadai dan konfigurasi dada mungkin menunjukkan penyakit paru. Peningkatan diameter anteroposterior (AP) dijumpai pada penyakit obstruksi paru kronis (COPD) stadium lanjut. Diameter AP cenderung mendekati diameter lateral sehingga membentuk dada seperti tong. Tulang iga akan kehilangan sudut 45 derajat dan menjadi lebih horizontal. Suatu keadaan yang dinamai flail chest adalah konfigurasi dada dimana suatu sisi dada bergerak paradoksal ke dalam selama inspirasi. Keadaan ini dijumpai pada fraktur iga multipel. Keadaan kidoskoliosis adalah di mana terjadi deformitas tulang punggung membentuk lengkungan tulang punggung abnormal AP dan lateral sehingga pengembangan dada dan paru-paru menjadi sangat terbatas. Pectus excavatum atau dada corong adalah cekungan pada sternum, dan akan menimbulkan masalah restriktif pada paru-paru jika cekungannya berat. Pectus karinatum atau dada seperti burung merpati adalah suatu deformitas yang lazim ditemukan tetapi tidak menganggu ventilasi.


Menilai Laju dan Pola Pernapasan
Pemeriksaan ini baiknya dilakukan setelah menghitung denyut radial. Caranya arahkan mata kita ke dada pasien dan evaluasi pernapasan pasien sementara masih memegang tangannya. Pasien tidak menyadari bahwa kita sudah selesai menghitung denyut nadinya dan pasien tidak mengatur pernapasannya sehingga nampak normal. Karena jika kita meminta pasien untuk bernapas, umumnya mereka akan mengubah pola dan laju pernapasannya sehingga hasilnya menjadi bias.

Hitunglah jumlah pernapasannya dalam periode 30 detik dan kalikanlah angkanya dengan 2 untuk mendapatkan laju pernapasan per menit. Orang dewasa rata-rata mempunyai laju pernapasan 10-14 kali per menit. Ada beberapa keadaan abnormal dalam bernapas diantaranya:
  • Bradipneu adalah perlambatan respirasi secara abnormal.
  • Takipneu adalah peningkatan pernapasan secara abnormal.
  • Apneu adalah berhentinya pernapasan untuk sementara.
  • Hiperpneu adalah peningkatan dalamnya pernapasan, biasanya berkaitan dengan asidosis metabolik serta dikenal dengan pernapasan Kussmaul.
Artikel Penunjang : Bunyi Pernapasan Normal dan Tambahan
Perubahan bentuk toraks dapat disebabkan oleh perubahan bentuk sangkar torak ataupun oleh karena perubahan isi torak. Apabila ada kelainan pada salah satu sisi hemithoraks akan memberikan kesan yang tidak simetris pada saat diam atau saat bergerak. Kelainan dapat berupa efusi pleura, pneumothorak, ataupun massa dalam rongga thorak. Beberapa hal lain seperti atelektasis dan fibrotik menyebabkan penarikan pada rongga antar iga yang memberikan kesan tidak simetris pada saat inspeksi. Setiap kelainan pada paru, pleura maupun dinding dada akan mengakibatkan gangguan distensibilitas yang dapat dinilai dari adanya gangguan pada pergerakan dada. Pada inspeksi dada juga dapat diamati pola pernapasan.

PALPASI

Palpasi Dada
Sekarang kita akan pindah ke punggung pasien untuk memeriksa dada posterior dan ke dada depan untuk pemeriksaan dada anterior. Palpasi adalah “meletakkan tangan”. Palpasi digunakan dalam pemeriksaan dada untuk memeriksa hal berikut ini:
  • Daerah nyeri tekan
  • Kesimetrisan pergerakan dada
  • Fremitus taktil


Palpasi untuk Nyeri Tekan
Semua daerah dada harus diperiksa untuk mengetahui adanya daerah-daerah nyeri tekan. Pukul perlahan punggung pasien dengan kepalan tangan. Keluhan nyeri dada mungkin hanya berasal dari muskuloskeletal dan tidak berkaitan dengan penyakit jantung atau paru-paru.

Pemeriksaan Pergerakan Dada
Derajat simetri pergerakan dada dapat ditentukan dengan meletakkan tangan anda secara mendatar pada punggung pasien dengan ibu jari sejajar dengan garis tengah kira-kira setinggi iga ke-10 dan menarik kulit di bawahnya sedikit ke arah garis tengah. Pasien diminta untuk menarik napas dalam dan perhatikan gerakan tangannya. Penyakit paru setempat bisa menyebabkan satu sisi dada bergerak lebih sedikit daripada sisi lainnya.

Pemeriksaan Fremitus Taktil
Pemeriksaan ini dilakukan dengan meletakkan telapak tangan pemeriksa pada dinding dada (atau punggung) dan meminta pasien untuk mengatakan “tujuh puluh tujuh”. Fremitus taktil dinilai dan tangan pemeriksa diletakkan ke posisi yang sama pada sisi yang berlawanan. Fremitus taktil kemudian dibandingkan dengan sisi yang berlawanan. Dengan menggerakkan tangan dari sisi ke sisi, dari atas ke bawah, pemeriksa dapat mendeteksi perbedaan penghantaran suara ke dinding dada.

Meningkat
Menurun
Pneumonia
Unilateral: Pneumothorak, Efusi pleura, Obstruksi bronkus
Atelektasis (pengembangan jaringan paru tidak sempurna)
Bilateral : Penyakit paru obstruktif kronis, penebalan dinding dada (otot, lemak)

Palpasi dapat membantu memberi informasi adanya gangguan pada pergerakan dinding dada serta gangguan pada penghantaran getaran. Fremitus fokal dapat menurun bila rongga bronkus tertutup, efusi, pneumothorak, dan keadaan patologi lain. Beberapa kelainan dapat meningkatkan fremitus fokal, misalnya pada proses konsolidasi parenkim paru.

PERKUSI
Perkusi adalah mengetuk pada permukaan untuk menentukan struktur di bawahnya. Pengetukan pada dinding dada akan dihantarkan ke jaringan di bawahnya, dipantulkan kembali, kemudian akan dinilai oleh indera taktil dan pendengaran pemeriksa. Bunyi yang terdengar dan rabaan yang dirasakan bergantung pada perbandingan udara dengan jaringan. Hantaran berupa getaran yang dihasilkan dengan pemeriksaan perkusi hanya dapat menilai organ paru sampai kira-kira sedalam 5 sampai 6 cm, tetapi perkusi berguna karena banyak perubahan perbandingan antara udara dengan jaringan dapat segera diketahui. Tujuan perkusi dada adalah untuk mengetahui batas  resonansi paru dan menentukan daerah mana yang mempunyai bunyi perkusi abnormal pada bagian parenkim paru.

Pada dada kiri normal, bunyi redup di atas jantung dan bunyi sonor di atas lapangan paru dapat terdengar dan dirasakan. Ketika paru-paru berisi cairan dan menjadi lebih padat, seperti pada pneumonia, bunyi sonor digantikan oleh bunyi redup. Istilah hipersonor dipakai untuk bunyi perkusi pada paru-paru yang kepadatannya sudah berkurang, seperti pada emfisema. Hipersonor adalah bunyi resonansi dengan tinggi nada rendah dan bergaung serta terus-menerus mendekati bunyi timpani.

Perkusi Dada Posterior
Tempat-tempat perkusi dada posterior adalah di atas, di antara, dan di bawah skapula di sela iga. Tulang skapula tidak diperkusi. Pemeriksa harus mulai dari atas ke bawah, dari sisi ke sisi, dengan membandingkan satu sisi dengan sisi lainnya.


Perkusi Dada Anterior
Mencakup fossa supraklavikular, aksila, sela iga anterior. Bandingkan sisi sebelah dengan lainya. Bunyi redup mungkin timbul pada sela iga ketiga sampai kelima bagian kiri sternum karena ada jantung. Penting dilakukan perkusi di aksila karena lobus atas paling baik diperiksa pada posisi ini. Perkusi pada bagian aksila kadang-kadang lebih mudah pada saat pasien posisi duduk.


Memeriksa Gerakan Diafragma
Perkusi dipakai pula untuk mendeteksi gerakan diafragma. Pasien diminta untuk menari nafas dalam dan menahannya. Perkusi pada basis paru-paru kanan menentukan daerah sonor terendah yang mencerminkan batas diafragma terendah. Di bawah batas itu ada redup hati. Pasien kemudian diminta untuk mengeluarkan napas sebanyak mungkin dan perkusi diulangi. Pada ekspirasi, paru-paru akan mengecil, hati akan bergerak ke atas dan daerah yang sama akan menjadi redup. Perbedaan antara batas pada waktu inspirasi dengan batas pada waktu ekspirasi merupakan gerakan diafragma, biasanya sebesar 4-5 cm. Pasien dengan emfisema mempunyai gerakan diafragma yang berkurang. Pasien dengan kelumpuhan nervus frenikus tidak mempunyai gerakan diafragma.

AUSKULTASI


Auskultasi harus dilakukan dalam lingkungan yang tenang dan tidak bising. Pasien diminta untuk menarik napas dalam dan mengeluarkan napas melalui mulutnya. Pemeriksa mula-mula harus memusatkan perhatian pada panjangnya inspirasi kemudian pada panjang ekspirasi. Bila bunyi pernapasan sangat lemah, dipakai istilah menjauh. Bunyi pernapasan yang menjauh lazim ditemukan pada pasien dengan paru-paru hiperinflasi, seperti pada emfisema.



Baiklah sobat, inilah pembahasan kali ini mengenai Pemeriksaan Fisik Paru-Paru, semoga bermanfaat bagi teman semua. J