Selasa, 03 November 2015

Persebaran Flora dan Fauna Di Indonesia

Selamat datang di softilmu, blog sederhana yang berbagi ilmu pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi membahas tentang Persebaran Flora dan Fauna di Indonesia, bahasannya cukup singkat, semoga saja dapat bermanfaat bagi sahabat. Langsung saja ya..

A. PERSEBARAN FLORA DI INDONESIA
Floraadalah kumpulan suatu jenis tumbuh-tumbuhan yang terdapat dalam suatu daerah tertentu. Flora Indonesia termasuk kawasan Malesiana. Yang terdiri dari Indonesia, Filipina, Semenanjung Malaya, dan Papua Nugini.
Artikel Penunjang : Persebaran Flora dan Fauna Di Dunia
Tumbuh-tumbuhan yang hidup disuatu tempat ada yang tumbuh secara alami dan ada juga yang dibudidayakan oleh manusia, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti iklim, jenis tanah, relief atau tinggi rendah permukaan bumi, biotik (pengaruh makhluk hidup).

Iklim mempunyai pengaruh yang sangat besar terutama suhu udara dan curah hujan. Daerah yang curah hujannya tinggi memiliki hutan yang lebat dan juga jenis tanamannya lebih bervariasi, misalnya seperti di Pulau Kalimantan, dan Sumatera. Sedangkan daerah yang curah hujannya rendah tidak memiliki hutan yang lebat dan juga keanekaragaman tanaman seperti di Nusa Tenggara.
Artikel Penunjang : Tumbuhan Tumbuhan Langka di Indonesia
Suhu udara suatu tempat juga menjadi faktor penting untuk penyebaran tanaman disuatu tempat. Zonasi (pembatasan wilayah) tumbuh-tumbuhan di Indonesia adalah sebagai berikut :
  • Daerah panas (0-650 meter), tumbuhan yang cocok di daerah ini adalah kelapa, padi, jagung, karet, tebu
  • Daerah sedang (650-1500 meter),  tumbuhan yang cocok di daerah ini adalah kopi, tembakau, teh, sayuran
  • Daerah sejuk (1500-2500 meter), tumbuhan yang cocok di daerah ini adalah teh, kina, pinus, sayuran
  • Daerah dingin (diatas 2500 meter) tidak ada tanaman budidaya

Penyebaran flora di Indonesia terbagi menjadi empat, yaitu :
1. Hutan hujan tropis
Indonesia beriklim tropis dan dilalui garis khatulistiwa sehingga indonesia banyak memperoleh sinar matahari setiap tahun. Hutan hujan tropis terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan sedikit di Jawa (di bagian selatan). Daerah ini memiliki ciri-ciri hutan lebat, heterogen, dan lembab. Hutannya ditumbuhi berbagai jenis pohon besar dan kecil dengan ketinggian mencapai 60m. Jenis pohon yang dapat ditemui antara lain pohon kamper, meranti, damar, eboni, kemenyan, dan rotan.
HUTAN HUJAN TROPIS

2. Sabana
Terdapat di daerah yang curah hujannya sedikit, sabana berupa padang rumput yang diselingi rumpun pohon rendah atau semak-semak yang berkelompok. Sabana kebanyakan terdapat di Madura dan Dataran Tinggi Gayo (Aceh).
SABANA
3. Stepa
Adalah padang rumput yang sangat luas, ditempat yang curah hujannya rendah. Stepa  terdapat di Pulau Sumba, Sumbawa, Flores,dan Timor. Daerah ini memiliki musim kemarau yang panjang dan berpotensi untuk peternakan sapi, kuda sandel, dan kuda bima. Daerah terkering adalah Palu, yang hanya ditumbuh kaktus.
STEPA
4. Hutan musim
Hutan ini memiliki ciri hanya dihuni oleh satu jenis tumbuhan (homogen) dengan daun-daunnya yang gugur di musim kemarau. Jenis tumubuhannya adalah seperti jati dan cemara. Hutan musim terdapat di Pulau Jawa (dari Jawa Barat hingga Jawa Timur).
HUTAN MUSIM
B. PERSEBARAN FAUNA DI INDONESIA
Faunaatau dunia hewan dipengaruhi oleh keadaan alam, gerakan hewan dan rintangan alam. Fauna di Indonesia dibagi menjadi tiga tipe berdasarkan pengelompokan oleh Alfred Russel Wallace dan Max Wilhel Carl Weber, yaitu :
PERSEBARAN FAUNA DI INDONESIA

1. Fauna tipe asiatis
Berada dibagian Indonesia sampai Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Selat Makassar dan Selat Lombok. Di daerah ini terdapat berbagai jenis hewan yang menyusui dan berukuran besar serta bermacam kera dan ikan air tawar. Contoh jenis fauna yang ditemukan adalah gajah, badak, harimau, beruang matahari, burung heron, burung merak dan orang utan.
Artikel Penunjang : Hewan Hewan Langka Di Indonesia
2. Fauna peralihan (australia-asiatik)
Terdapat dibagian tengah Indonesia, yaitu Sulawesi dan daerah Nusa Tenggara. Karakteristik hewannya mirip dengan Asia maupun Australia. Di daerah ini juga terdapat jenis hewan seperti kera, babi rusa, burung maleo, anoa, dan kuskus.

3. Fauna tipe australis
Berada dibagian timur Indonesia, seperti Papua dan Kepulauan Aru (bagian timur). Jenis hewan di daerah ini adalah hewan yang menyusui dan berukuran kecil, tidak ada kera, sedikit ikan air tawar, dan banyak jenis burung berwarna. Di daerah ini terdapat hewan seperti kangguru, burung kasuari, kakaktua, dan cenderawasih.

Nah itulah dia pembahasan singkat tentang Persebaran Flora dan Fauna Di Indonesia. Silahkan di share ilmunya agar lebih bermanfaat bagi orang lain. Terimakasih telah berkunjung di softilmu, sering sering mampir ya J

Senin, 02 November 2015

Pengertian Piramida Makanan dan Contohnya

Selamat datang di softilmu, blog sederhana yang berbagi ilmu pengetahuan dengan penuh keikhlasan, kali ini kami akan berbagi ilmu tentang Piramida Makanan, semoga ilmunya dapat bermanfaat, langsung saja ya..

Dalam suatu ekosistem, tumbuhan sebagai produsen memiliki jumlah populasi yang lebih besar dibanding tingkat trofik lainnya. Jumlah popolasi produsen lebih besar dari konsumen I, konsumen II, konsumen III dan seterusnya hingga konsumen puncak. Berdasarkan perbedaan tingkat populasi ini dapat digambarkan sebuah diagram berbentuk piramida, dimana produsen menduduki tingkat terdasar sebagai organisme dengan populasi tertinggi. Selanjautnya diikuti oleh konsumen I, konsumen II dan seterusnya. Selain dari segi perbedaan jumlah populasi piramida makanan juga bisa berbentuk piramida biomassa dan piramida energi.

A. PENGERTIAN PIRAMIDA MAKANAN
Piramida makanan adalah jumlah massa zat dan energi dari produsen sampai dengan konsumen tertinggi yang digambarkan dalam berntuk piramida. Bedasarkan gambaran tersebut, maka jumlah produsen merupakan yang paling banyak, konsumen 1 terbanyak kedua, konsumen 2 terbanyak ketiga, dan seterusnya hingga mencapai konsumen ke 3 yang jumlahnya paling sedikit.
PIRAMIDA MAKANAN
B. MACAM – MACAM PIRAMIDA MAKANAN
1. Piramida Populasi
Pada piramida ini digambarkan bahwa organisme yang menempati tingkat trofik lebih rendah memiliki populasi lebih besar dibanding dengan organisme yang bertingkat trofik lebih tinggi. Dasar dari piramida ini ditempati oleh produsen yang memiliki jumlah populasi yang lebih besar. Sedangkan, ujungnya dihuni oleh beberapa individu konsumen puncak. Dan diantara dasar dan ujungnya diduduki oleh beberapa tingkatan konsumen. Jumlah populasi konsumen I lebih besar dibanding konsumen II, dan konsumen II lebih besar dibanding konsumen III.

Piramida populasi bisa disebut sebagai penyeimbang dari populasi setiap organisme. Sudah sewajarnya organisme yang menjadi mangsa lebih besar jumlahnya dibanding dengan organisme pemangsa. Dengan demikian sumber makanannya tak akan pernah habis. jika sebaliknya jumlah pemangsa lebih besar, maka yang akan terjadi adalah kepunahan dari suatu organisme

2. Piramida Biomassa
Piramida biomassa seperti namanya menggambarkan perpaduan massa seluruh organisme di suatu lingkungan atau habitat tertentu. Kemudian berat dari setiap organisme diukur dalam gram. Pengukuran biomassa pada setiap tingkat trofik berdasarkan berat rata-rata organisme dengan memperkirakan jumlahnya.     piramida ini lebih akurat dalam menunjukkan hubungan kuantitatif biomassa   dalam   suatu  ekosistem.

Ada dua jenis piramida  biomassa  yaitu piramida tegak dan piramida terbalik. Piramida tegak adalah piramida yang massa gabungan dari seluruh produsen lebih besar daripada massa gabungan dari setiap tingkatan konsumennya. Piramida tegak biasanya menggambarkan sebuah ekosistem darat. Sedangkan piramida terbalik adalah piramida yang menggambarkan massa gabungan dari produsen-produsennya yang lebih kecil dari massa gabungan dari konsumennya. Contoh dari piramida ini yaitu ekosistem perairan.
Artikel Penunjang : Rantai Makanandan Jaring – Jaring Makanan
3. Piramida Energi
Pada piramida energi terjadi penurunan energi pada setiap tingkat trofik. Semakin tinggi tingkat trofiknya jumlah energi semakin mengecil. Artinya, produsen sebagai tingkat trofik pertama mempunyai energi yang lebih besar dibanding konsumen-konsumen ditingkat trofik yang lebih tinggi. Semakin mengecilnya jumlah energi pada setiap trofik dikarenakan oleh beberapa sebab. Diantaranya seperti :
Hanya sebagian makanan tertentu saja yang dimakan oleh tingkat trofik selanjutnya.
Sebagian makanan yang dimakan tidak bisa dicerna melainkan dikeluarkan menjadi kotoran.
Sebagian makanan   yang   dicerna   menjadi   bagian   dari   tubuh   organisme,
sedangkan sisanya sebagai sumber energi.

Piramida energi memberikan gambaran yang akurat tentang aliran energi pada suatu ekosistem. Energi yang terukur pada piramida ini memiliki satuan   (kal/m2/th).


Nah itulah pembahasan singkat kali ini tentang Piramida Makanan, Semoga ilmunya dapat bermanfaat, apabila masih ada yang belum dipahami silahkan ditanyakan melalui kotak komentar di bawah, terimakasih telah berkunjung di softilmu, jangan lupa follow, komentar, dan likenya J

Rantai Makanan dan Jaring - Jaring Makanan

Selamat datang di softilmu, blog sederhana yang berbagi ilmu pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi ilmu tentang Rantai Makanan dan Jaring Jaring Makanan, semoga mudah dipahami dan dapat bermanfaat bagi sahabat.

A. RANTAI MAKANAN
1. Pengertian Rantai Makanan
Rantai makanan adalah rangkaian peristiwa makan dan dimakan antar makhluk hidup untuk kelansungan hidupnya. Proses makan–memakan ini berdasar urutan tertentu dan berlansung terus-menerus. Dalam ekosistem ini makhluk hidup memiliki perannya masing-masing, mulai dari yang berperan sebagai peroduser, konsumen dan beberapa sebagai dekomposer (pengurai).

Produsen adalah makhluk hidup yang dapat memproduksi zat organik dari zat anorganik. Produsen tidak memakan makhluk hidupnya. Melainkan membuatnya sendiri. Satu-satunya jenis makhluk hidup yang mampu melakukan proses tersebut adalah tumbuhan dengan cara fotosintesis. Contoh dari produsen yaitu alga, lemut dan tumbuhan hijau.
PRODUSEN
Konsumen adalah makhluk hidup yang tidak bisa membuat makanannya sendiri dan tergantung kepada organisme lain. Konsumen mengonsumsi organisme lainnya untuk bertahan hidup. Dalam suatu ekosistem yang berperan sebagai konsumen biasanya adalah hewan. Konsumen dibagi atas beberapa tingkatan dalam suatu rantai makanan. Pertama konsumen primer, yaitu hewan yang memakan tumbuhan (herbivora) secara langsung, contohnya sapi, kelinci, dan lain-lain. Konsumen II (sekunder) yaitu hewan yang memakan konsumen primer (karnivora). Seterusnya konsumen II dimakan oleh konsumen III (tersier). Seterusnya kegiatan makan-memakan berlangsung terus hingga sampai kepada konsumen terakhir atau biasa disebut konsumen puncak. Konsumen puncak adalah tingkatan dari konsumen dimana tidak ada lagi makhluk hidup lain yang memakannya. Seperti singa, beruang, buaya dan tentunya manusia.
KONSUMEN DAN PRODUSEN
Dekomposer (pengurai) merupakan pemeran terakhir dalam suatu rantai makanan, dimana organisme ini berperan menguraikan bahan organik menjadi bahan anorganik. Dekomposer mengurai bahan organik dari tumbuhan mati atau bangkai hewan dan mengembalikan nutrisinya ke dalam tanah yang kemudian digunakan oleh produsen untuk berfotosintesis. Dari sinilah siklus rantai makanan dimulai kembali. Dekomposer disebut juga detritivor atau pemakan bangkai. Contoh dari organisme ini  seperti bakteri pembusuk dan jamur.
PRODUSEN, KONSUMEN DAN DEKOMPOSER
Rantai makanan tersusun atas beberapa tingkatan. Tingkatan-tingkatan ini disebut dengan tingkat trofik. Susunan-susunannya dimulai dari produsen hingga dekomposer. Produsen sebagai organisme yang mampu membuat makanan sendiri berada di tingkat trofik pertama. Kemudian konsumen yang memakan produsen berada pada tingkat trofik kedua. Pada tingkat ketiga diduduki oleh konsumen yang memakan konsumen pertama, begitu juga pada tingkat trofik keempat dan seterusnya.

Artikel Penunjang : Pengertian Piramida Makanan dan Contohnya
2. Jenis – Jenis Rantai Makanan
Berdasarkan jenis organisme yang menduduki tingkat pertama trofik, rantai makanan di bagi dua yaitu, rantai makanan perumput dan rantai makanan detritus.
a. Rantai makanan perumput (grazing food chain)
Rantai makanan paling sering ditemui dan dikenali. Rantai makanan ini dimulai dari tumbuhan sebagai produsen pada tingkat trofik pertamanya. Contoh dari siklus rantai makanan ini yaitu :
rumput --> belalang --> burung --> ular.

b. Rantai makanan detritus
Rantai makanan ini tidak dimulai dari tumbuhan, tetapi dimulai dari detritivor. Detritivor adalah organisme heterotrof yang memperoleh energi dengan cara memakan sisa-sisa makhluk hidup. Contoh rantai makanan detritus yaitu : serpihan daun (sampah) --> cacing tanah --> ayam --> manusia. 

B. JARING – JARING MAKANAN
Jaring-jaring makanan adalah sekumpulan dari beberapa rantai makanan yang saling berhubungan. Rantai makanan hanya bahagian kecil dari sebuah jaring-jaring makanan. Secara alami, makhluk hidup memakan lebih dari satu variasi makanan. Dan satu jenis makhluk hidup yang jadi makanan menjadi mangsa dari beberapa jenis pemangsa. Seperti pada gambar 4 dan 5. Sehingga lebih dari satu rantai makanan yang diperlukan untuk menggambarkan sebuah siklus makan-dimakan yang terjadi dalam suatu ekosistem.
KURA - KURA MEMANGSA LEBIH DARI SATU JENIS HEWAN
KEPITING DIMANGSA OLEH LEBIH DARI SATU JENIS HEWAN
Sebuah jaring-jaring makanan memiliki susunan yang lebih komplek dibanding rantai makanan. Pada jaring-jaring makanan, suatu organisme bisa memakan lebih dari satu organisme lainnya dan sebaliknya satu organisme bisa dimakan oleh lebih dari satu organisme lainnya. Contoh gambar dari jaring-jaring makanan sebagai berikut :
JARING JARING MAKANAN DI HUTAN
JARING JARING MAKANAN DI LAUTAN
Nah itulah postingan kami kali ini tentang Rantai Makanan dan Jaring Jaring Makanan, semoga ilmunya dapat bermanfaat. Jika masih ada yang belum dimengerti silahkan sahabat tanyakan melalui kotak komentar di bawah, terimakasih telah berkunjung di softilmu, jangan lupa follow, like dan komentarnya ya J

Minggu, 01 November 2015

Pengertian, Rumus, dan Aplikasi Hukum Gravitasi

 Selamat datang di softilmu, blog sederhana yang berbagi ilmu pengetahuan dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi pengetahuan tentang HUKUM GRAVITASI, beberapa topik utama yang akan kami bahas adalah Pengertian Hukum Gravitasi, Aplikasi, dan Rumus Hukum Gravitasi. Semoga artikelnya dapat bermanfaat.

A. PENGERTIAN HUKUM GRAVITASI
Hukum ini diperkenalkan oleh seorang ahli fisika dan matematikawan asal Inggris bernama Isaac Newton (1642-1727). Pada sejarahnya, Newton menemukan hukum ini ketika dia memperhatikan peristiwa apel jatuh. Ketika itu dia berpikir ada suatu gaya belum diketahui yang menyebabkan benda yang awalnya diam menjadi bergerak. Newton juga menyadari bahwa gaya itu juga yang menyebabkan bulan selalu berada didekat bumi dan tetap dalam lintasan orbit yang mengelilingi bumi. Newton menyebut gaya tersebut sebagai gaya ‘gravitasi’ dan menetapkan bahwa gaya ini pasti ada diantara semua benda.

Pada sejarahnya, sebenarnya hukum gravitasi sudah pernah dipikirkan oleh orang-orang pada zaman Yunani kuno dulu. Persoalan yang menjadi dasar pemikiran mereka tentang fenomena gravitasi yaitu, pertama, mengapa benda-benda selalu jatuh ke permukaan tanah dan yang kedua tentang pergerakan planet-planet. Ini juga merupakan pemikiran dasar Newton tentang gravitasi. Namun, yang membedakan antar keduanya adalah orang-orang Yunani pada waktu itu menganggap antara peristiwa benda yang jatuh dengan pergerakan planet merupakan dua hal yang berbeda. Sedangkan Newton memandang kedua peristiwa tersebut disebabkan oleh satu hal saja dan diikat oleh hukum yang sama yakni gaya gravitasi.

Gaya gravitasi adalah gaya tarik menarik antar dua benda yang memiliki massa. Gravitasi matahari menyebabkan benda-benda disekitar matahari beredar mengelilinginya. Begitu juga dengan gravitasi bumi yang menarik benda disekitarnya baik itu didalam atau diluar angkasa (bulan, meteor, satelit dan sebagainya) asalkan benda tersebut memiliki massa.

Hukum gravitasi universal menyatakan bahwa setiap massa benda menarik massa benda lainnya dengan gaya yang menghubungkan kedua benda. Besar gaya ini yaitu berbanding lurus dengan perkalian kedua massa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua massa benda tersebut.

Jika dua buah benda bermassa m1 dan m2 dipisahkan oleh jarak R, maka besar gaya gravitasi antar kedua benda adalah :
Keterangan :
F = gaya tarik gravitasi (N)
G = konstanta gravitasi umum (6,673 x 10–11 Nm2/kg2)
m1, m2 = massa masing-masing benda (kg)
R2 =  jarak antara kedua benda (m)

DUA BENDA YANG MENGALAMI GRAVITASI
Pada gambar diatas, F12 merupakan gaya gravitasi yang dikerjakan m1 pada m2 sedangkan F21 merupakan gaya yang dikerjakan m2 pada m1. F12 bekerja pada m2 menuju m1, begitu juga sebaliknya F21 bekerja pada m1 dan menarik m1 menuju m2. F12 dan F21 mempunyai besar yang sama dengan arah yang saling berlawanan sehingga disebut dengan pasangan aksi reaksi. Pada gambar juga terdapat unsur r, dimana r merupakan jarak antara pusat m1 dan pusat m2.

Pada gambar sudah terdeskripsikan bagaimana hubungan antara gaya, massa dan jarak. Namun, ada yang kurang bila dilihat berdasarkan rumusnya yaitu nilai konstanta gravitasi umum. Nilai konstanta gravitasi umum (G) ditentukan dari hasil percobaan yang dilakukan oleh Henry Cavendish pada tahun 1798 dengan menggunakan peralatan neraca Cavendish.
NERACA CAVENDISH
Seperti yang terlihat pada gambar diatas neraca Cavendish mempunyai dua bola kecil yang bermassa masing-masing m1 yang diletakkan di ujung batang kecil yang digantungkan dengan seutas tali. Selain bola kecil ada dua bola besar dengan massa m2.  Pada bagian atas serat penggantung diletakkan sebuah cermin kecil untuk memantulkan berkas cahaya yang akan diamati puntiran seratnya. Dengan keberadaan gaya gravitasi antara kedua bola maka serat akan terpuntir. Puntiran ini menggeser berkas cahaya pada skala pengukur. Setelah gaya antara dua massa dan  massa masing-masing bola terukur, maka akan didapatkan konstanta gravitasi  umum seperti yang ditemukan Cavendish yaitu sebesar 6,673 x 10–11 Nm2/kg2.

B. APLIKASI HUKUM GRAVITASI
Menghitung Massa Bumi
Massa bumi dapat dihitung dengan menggunakan nilai konstanta gravitasi umum (G). Berdasarkan rumus dari percepatan gravitasi bumi, setelah diketahuinya besar jari-jari bumi yaitu R = 6,37 × 106 m (bumi dianggap bulat sempurna) maka kita dapat menghitung massa bumi, dengan cara sebagai berikut :
1. Menghitung Massa Matahari
Diketahui rata-rata jari-jari lintasan orbit bumi yaitu sebesar rB=1,5 x 1011m dan periode revolusi bumi selama 1 tahun = 3 x 107 s. Berdasarkan itu, kita dapat mencari massa matahari dengan cara sebagai berikut :
2. Menghitung Kecepatan Satelit
Satelit merupakan benda luar angkasa yang mengitari benda lainnya yang memiliki massa yang lebih besar dari massa satelit tersebut, seperti bulan yang merupakan satelitnya bumi. Menghitung kecepatan satelit dapat digunakan dalam dua cara yaitu dengan hukum gravitasi dan gaya sentrifugal. Berdasar hukum kedua Newton kita dapat menghitung kecepatan satelit yaitu dengan memanfaatkan nilai massa Bumi (M) dan jari-jari bumi (R). Rumus dan caranya yaitu sebagai berikut :

3. Menghitung Jarak Satelit yang Mengorbit Bumi
Dengan rumus gaya sentripetal dan rumus gaya gravitasi kita dapat mencari nilai dari jarak satelit yang mengorbit bumi, yaitu sebagai berikut :


Nah itulah postingan kali ini tentang PENGERTIAN, APLIKASI DAN RUMUS HUKUM GRAVITASI, Semoga dapat bermanfaat ilmunya. Apabila masih ada yang belum dimengerti silahkan sahabat tanyakan melalui kotak komentar di bawah ini. Kami akan berusaha merespon dengan cepat dan tepat. Terimakasih telah berkunjung di softilmu, jangan lupa follow, like dan komentarnya ya J

Bunyi Jantung Utama, Bunyi Tambahan, dan Bising Jantung

Baiklah sobat, kali ini kita akan membahas mengenai Bunyi Jantung Utama, Bunyi Tambahan, dan Bising Jantung. Pengetahuan ini berguna ketika kita akan melakukan Pemeriksaan Fisik Jantung karena pada auskultasi kita diharuskan untuk mendengarkan bunyi jantung. Langsung saja kita masuk ke pembahasannya.

BUNYI JANTUNG UTAMA

Bunyi jantung utama terdiri dari bunyi jantung I, II, III, dan IV.

(1) Bunyi jantung I
Bunyi jantung I ditimbulkan karena getaran akibat menutupnya katup atrioventrikular terutama katup mitral. Pada keadaan normal terdengar tunggal. Faktor-faktor yang memengaruhi intensitas BJ I adalah:
  • Kekuatan dan kecepatan kontraksi otot ventrikel, makin Kuta dan cepat, makin keras bunyinya.
  • Posisi daun katup atrio-ventrikular pada saat sebelum kontraksi ventrikel. Makin dekat terhadap posisi tertutup, makin kecil kesempatan akselerasi darah yang keluar dari ventrikel, dan makin pelan terdengarnya BJ I. Sebaliknya, makin lebar terbukanya katup atrioventrikular sebelum kontraksi, makin keras BJ I, karena akselerasi darah dan gerakan katup lebih cepat.
  • Jarak jantung terhadap dinding dada. Pada pasien dengan dada kurus, BJ akan terdengar lebih keras dibandingkan dengan pasien gemuk. Demikian juga pada pasien dengan emfisema pulmonum, BJ akan terdengar lebih lemah.



Untuk membedakan BJ I dengan BJ II, pemeriksaan auskultasi dapat disertai dengan pemeriksaan nadi. BJ I akan terdengar bersamaan dengan denyutan nadi.

(2) Bunyi jantung II
Bunyi jantung II (BJ II) timbul karena getaran menutupnya katup semilunar Aorta maupun Pulmonal. Pada keadaan normal, terdengar pemisahan (splitting) dari kedua komponen yang bervariasi dengan pernapasan pada anak-anak atau orang muda. Bunyi jantung II terdiri dari komponen aorta dan pulmonal (BJ II = A2 + P2). Komponen A2 lebih keras terdengar pada area aorta di sekitar ruang intercostal II kanan. Komponen P2 hanya dapat terdengar keras di sekitar area pulmonal.

(3) Bunyi jantung III
Bunyi jantung III (BJ III) disebabkan oleh getaran cepat dari aliran darah saat pengisian cepat (rapid filling phase) dari ventrikel. Hanya terdengar pada anak-anak atau dewasa muda atau keadaan dimana compliance otot ventrikel menurun (hipertrofi atau dilatasi).

(4) Bunyi jantung IV
Bunyi jantung IV (BJ IV) disebabkan oleh kontraksi atrium yang mengalirkan darah ke ventrikel yang compliance menurun. Jika atrium tidak berkontraksi dengan efisien, misalnya pada atrial fibrilasi, maka bunyi jantung IV tidak terdengar.

Bunyi jantung sering dinamakan berdasarkan daerah katup dimana bunyi tersebut didengar. M1 berarti bunyi jantung I di daerah mitral. P2 berarti bunyi jantung II di daerah pulmonal. Bunyi jantung I akan terdengar jelas di daerah apeks, sedangkan bunyi jantung II dikatakan mengeras jika intensitasnya terdengar sama keras dengan bunyi jantung I di apeks.

bunyi jantung
Lokasi Auskultasi untuk mendengar bunyi jantung

BUNYI JANTUNG TAMBAHAN

Bunyi jantung tambahan merupakan bunyi yang terdengar akibat adanya kelainan anatomis atau aliran darah yang dalam keadaan normal tidak akan menimbulkan bunyi atau getaran.

Bunyi jantung tambahan terdiri dari:
  • Klik ejeksi (ejection click) : adalah bunyi yang disebabkan karena pembukaan katup semilunar pada stenosis/penyempitan.
  • Ketukan perikardial : bunyi ekstrakardial yang terdengar akibat getaran/gerakan perikardial pada perikarditis/efusi perikardium.


BISING JANTUNG (MURMUR)

Bising jantung (murmur) merupakan bunyi yang ditimbulkan akibat getaran yang timbul dalam intensitas waktu yang lebih lama. Jadi, perbedaan antara bunyi dan bising terutama berkaitan dengan lamanya bunyi/getaran berlangsung.

Bising jantung terdiri dari:
  • Bising holosistolik: mengisi seluruh fase siklus jantung. Ditemukan pada mitra insuffisiensi atau ventricular sepal defect (VSD).
  • Bising sistolik-diastolik: mengisi baik fase sistolik maupun diastolik siklus jantung.
  • Bising sistolik: terdengar pada fase sistolik, ditemukan pada Atrial Stenosis (AS), Pulmonal Stenosis (PS), Ventrikular Septal Defect (VSD), Mitral Insuffisiensi (MI).
  • Bising diastolik: terdengar pada fase diastolik, misalnya pada Insuffisiensi Aorta (AI).
  • Continous Murmur: terdengar terus-menerus, misalnya pada Patent Ductus Arteriosus (PDA).
  • Bising yang terdengar pada sebagian dari satu fase siklus jantung: (1) Late systolic murmur, misalnya pada prolaps katup mitral, (2) Early diastolic murmur, misalnya pada aorta insuffiency (AI) atau pulmonal inssufisiency (PI) (3) Late diastolic murmur, misalnya pada mitral stenosis.



Baiklah sobat, inilah postingan kami kali ini mengenai Bunyi Jantung Utama, Bunyi Tambahan, dan Bising Jantung, semoga bermanfaat bagi teman-teman semuanya. J

Proses, Siklus, dan Sistem Termodinamika

Selamat datang di Softilmu, blog ilmu pengetahuan yang berbagi dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi ilmu tentang Termodinamika. Beberapa pembahasan utamanya adalah Proses Termodinamika, Siklus Termodinamika, dan Sistem Termodinamika. Postingan kali ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya dengan Judul :
Artikel Penunjang : Pengertian, Prinsip dan Hukum Termodinamika
Agar lebih terarah, ada baiknya sahabat membaca artikel di atas terlebih dahulu untuk memahai konsep dasarnya. Baiklah langsung saja untuk artikel kali ini ya..

Termodinamika berasal dari bahasa Yunani dimana Thermos yang artinya panas dan Dynamic yang artinya perubahan. Termodinamika merupakan ilmu yang menggambarkan usaha  untuk mengubah kalor (perpindahan energi yang disebabkan perbedaan suhu) menjadi energi serta sifat-sifat pendukungnya. Termodinamika berhubungan erat dengan fisika energi, panas, kerja, entropi dan kespontanan proses. Termodinamika juga berhubungan dengan mekanika statik. Cabang ilmu fisika ini mempelajari pertukaran energi dalam bentuk kalor dan kerja, sistem pembatas dan lingkungan. Aplikasi dan penerapan termodinamika dapat terjadi pada tubuh manusia, peristiwa meniup kopi panas, perkakas elektronik, Refrigerator, mobil, pembangkit listrik dan industri.

A. PROSES TERMODINAMIKA
1. Proses Isotermal
Selama proses isotermal, temperatur sistem tetap konstan. Tetapi pada temperatur rendah bentuk isotermal lebih komplek karena gas tidak algi ideal.
PROSES ISOTERMAL
2. Proses Isokhorik
Selama proses ini, volume sistem tidak mengalami perubahan. Proses ini terjadi pada sistem yang mempunyai volume (wadah) yang kuat, tertutup dan tidak dapat berubah (konstan).
PROSES ISOKHORIK
3. Proses Isobarik
Selama proses isobarik tidak terjadi perubahan tekanan pada sistem. Proses ini umumnya terjadi pada sistem yang mempunyai kontak langsung dengan tekanan atmosfer bumi yang dianggap konstan.
PROSES ISOBARIK
4. Proses Adiabatik
Selama proses adiabatik tidak terjadi transfer panas yang masuk atau keluar sistem. Proses initerjadi pada sistem terisolasi.
PROSES ADIABATIK
5. Proses Siklik
Proses yang satu ini sistem kembali secara periodik ke keadaan termodinamika yang sama. Proses ini dapat diamati jika diamati pada sistem natural dan teknologi. Misalnya : mesin, compresor udara,osilasi gelombang suara.
PROSES SIKLIK
Proses siklik sering melibatkan proses sederhana ini :
Dan

B. SIKLUS TERMODINAMIKA
SIKLUS TERMODINAMIKA
Ilmu mengenai siklus termodinamika penting dalam sistem pembangkit tenaga. Mesin-mesin ini menggunakan campuran bahan bakr udara untuk operasinya.
Siklus termodinamika dapat diklasifikasikan secara umum, yaitu :

1. Siklus reversibel (bolak balik)
Siklus ini merupakan sebuah siklus dimana perubahan dapat dibalikkan ke keadaan semula tanpa mengubah keadaan sekelilingnya. Pada siklus ini seharusnya tidak ada kerugian panas karena gesekan, radiasi atau konduksi. Siklus akan reversibel jika semua proses yang membentuk siklus juga reversibel.

2. Siklus irreversibel (tidak kembali)
Siklus ini merupakan siklus tak terbalikkan. Untuk mengembalikan ke keadaan semula harus mengubah keadaan sekelilingnya. Pada siklus ini ada kerugian panas karena gesekan, radiasi atau konduksi. Siklus ini juga terjadi jika proses pembentukannya juga proses irreversibel.

4. Siklus Carnot
Siklus yang satu ini dibuat oleh Carnot yang merupakan ilmuan pertama yang menganalisis permasalahan efesiensi mesin kalor. Pada mesin carnot, zat kerja melakukan operasi siklus yang terdiri dari dua operasi termal dan dua operasi adiabatik. Mesin Carnot adalah mesin kalor hipotesis yang beroperasi dalam suatu siklus reversibel.

C. SISTEM TERMODINAMIKA
Dalam termodinamika pembahasan sistem adalah hal yang seringkali kita dengar. Sistem itu sendiri adalah benda atau sekumpulan apa saja yang akan diteliti. Sistem juga dideskripsikan dengan jumlah besaran fisis yang menggambarkan keadaannya. Keadaan sistem yang ditinjau adalah keadaan makroskopik yang dapat berupa keadaan rata-rata dari partikel atau keadaan keseluruhan dalam sistem. Contoh dari keadaan ini adalah temperatur T, jumlah partikel N, volume V, energi dalam U,tekanan P dan lainnya.  Jika  berbicara tentang sistem, tidaklah lepas dari konsep lingkungan. Lingkungan adalah hal-hal yang ada diluar sistem.
CONTOH SISTEM TERMODINAMIKA : GAS DI DALAM BALON
Diantara sistem dan lingkungan terdapat dinding pembatasnya. Dinding pembatas inilah yang mengatur interaksi antara sistem dan lingkungan. Dalam aplikasinya batas sistem merupakan bagian dari sistem maupun lingkungannya, dan dapat berubah posisi atau bergerak. Berikut sifat dinding pembatas :

Pembatas Adiabatik, dimana tidak adanya pertukaran kalor anatar sistem dan lingkungan.
Pembatas Tegar, dimana tidak adanya interaksi yang baim dari sistem terhadap lingkungan atau sebaliknya.

Ditinjau dari sifat dinding pembatas sistem dengan lingkungan sekitar, sistem dalam termodinamika dapat dikelompokkan menjadi tiga :

1. Sistem Terbuka
Sistem terbuka terjadi ketika partikel dan energi dengan mudahnya keluar masuk sistem. Ketika terjadi kesetimbangan jumlah energi yang keluar dan masuk serta kesetimbangan jumlah partikel yang keluar masuk, maka sistem dan lingkungan memiliki nilai temperatur T dan potensial kimia ยต yang sama. Contohnya, lautan dan tumbuh-tumbuhan.

2. Sistem Tertutup
Sistem tertutup merupakan sistem yang dindingnya hanya dapat dilewati oleh energi panas. Partikel-partikel yang mencoba menerobos tidak akan bisa memasuki dinding sistem ini. Sistem semacam ini mendeskripsikan nilai partikelnya yang konstan tetapi berkebalikan dengan energi yang dapat berubah. Sebagai gantinya, ketika terdapta kesetimbangan jumlah energi yang keluar masuk sistem, temperatur sistem dan lingkungan memiliki nilai temperatur yang sama. Contohnya, Green House yang didalamnya terjadi pertukaran kalor tetapi tidak terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan.

3. Sistem Terisolasi
Sistem yang satu ini sangatlah unik. Dinding pembatasnya tidak dapat ditembus oleh partikel maupun energi dan tidak berinteraksi dengan lingkungannya. Sistem inilah yang sangat cocok dengan konsep termodinamika. Dimana sistem ini akan menjaga kesetimbangan termodinamika suatu benda. Sistem semacam ini dicirikan dengan nilai total energi E, jumlah partikel N dan volume V yang tetap.

Tetapi, sangat disayangkan, sistem ini hanyalah model, tidak ada sistem yang sebegitu uniknya dalam realita. Pengecualian terhadap sistem yang dinding pembatasnya sangat sulit ditembus. Peristiwa ini dapat dikelmpokkan sebagai sistem terisolasi. Contohnya tabung gas.

Dalam pembelajaran termodinamika umum, hal-hal inilah yang penting diketahui. Termodinamika juga memiliki penjelasan khusus per bidang tergantung urgensinya atau kepentingan dalam penerapannya. Hanya saja konsep dasarnya pastilah sama.


Nah itulah postingan kami kali ini tentang Termodinamika, Semoga artikelnya dapat bermanfaat. Jika masih ada yang belum dimengerti, silahkan sahabat tanyakan melalui kotak komentar di bawah ini. Terimakasih atas kunjungannya dan jangan lupa ikuti juga like page softilmu ya J

Pengertian dan Macam - Macam Cedera Tendon

Selamat datang di softilmu, blog ilmu pengetahuan yang berbagi dengan penuh keikhlasan. Kali ini kami akan berbagi tentang Cedera Pada Tendon. Postingan singkat ini akan membahas tentang 3 cedera pada tendon yang paling sering terjadi, yaitu Cedera Pada Tendon Achilles, Ruptur Tendon Achilles, dan Cedera Pada Tendon Patella atau Lutut. Semoga ilmunya dapat bermanfaat.

A. PENGERTIAN TENDON DAN CEDERANYA
Tendon adalah struktur dalam tubuh yang menghubungkan otot ke tulang. Contohnya ditubuh kita terdapat otot rangka yang bertanggung jawab untuk menggerakkan tulang, sehingga memungkinkan kita untuk berjalan, melompat, mengangkat, dan bergerak. Nah Cedera pada tendon adalah suatu kondisi terjadinya kerusakan pada struktur dan fungsi yang disebabkan oleh penyebab fisik, paksaan, maupun kimiawi.

B. MACAM MACAM CEDERA PADA TENDON DAN TERAPI AWALNYA
1. Cedera tendon Achilles (Achilles tendinitis)
Achilles adalah tendon terbesar di kaki kita. Tendon ini menghubungkan 2 otot besar betis – otot gastrocnemius dan otot soleus – ke bagian belakang tulang tumit. Bila dibebani oleh stres terlalu tinggi, tendon Achilles akan mengencang dan terpaksa bekerja terlalu keras, dan pada akhirnya tendon meradang. Peradangan inilah yang disebut Achilles Tendinitis. Biasanya terjadi pada pelari yang tiba-tiba meningkatkan intensitas atau durasi latihan mereka dan juga pada orang paruh baya ketika melakukan berbagai olahraga seperti tenis atau basket.

Gejala Achilles Tendinitis ditandai dengan rasa sakit di sepanjang area tendon yang biasanya rasa sakit terfokus pada bagian bawah dekat tumit. Gejala lainnya adalah berkurangnya fleksibilitas pergelangan kaki serta kulit di daerah yang terasa sakit berwarna kemerahan dan terasa panas.

Pada cedera tendinitis, istirahat adalah terapi yang paling baik. Bila kaki tidak dibebani, artinya tidak lari, tidak loncat, maka cedera akan sembuh. Dapat juga dilakukan fisioterapi untuk mempercepat penyembuhan. Biasanya melakukan stretching (peregangan) pada tendo tersebut akan sangat membantu penyembuhan.
 
CEDERA TENDON ACHILLES
2. Ruptur tendon Achilles
Ruptur tendon ini terjadi terutama pada olahragawan laki-laki pada dekade ke-3 sampai ke-5. Terjadi pada olah raga basket, tenis, lompat jauh, dan ski. Ruptur umumnya terjadi pada 2-6 cm di atas insersi tendon pada kalkaneus pada daerah yang perdarahannya sedikit. Sisi kanan lebih sering terkena daripada sisi kiri. Gejala umum berupa tarikan tiba-tiba diikuti suara keras (audible snap). Pasien merasa otot betisnya seperti dipukul. Seringkali nyeri dapat hilang dan pasien tetap dapat berjalan. Terdapat kelemahan pada saat plantar fleksi. Tanda klinis tendon yang sakit akan tampak lebih tebal dan adanya celah dapat diraba. Seringkali juga terdapat memar dan bengkak.

Pengobatan awal dapat dilakukan dengan kompres es, imobilisasi dalam posisi plantar fleksi, memakai kruk, dan analgetik bila diperlukan.

3. Cedera tendon Patella (Tendinitis Patella)
Tendon patella adalah tendon pada lulut yang menghubungkan tempurung lutut ke tulang kering. Tendon ini berperan penting untuk menggerakkan otot-otot kaki dengan cara membantu otot meregangkan lulut. Ketika tendon patella mendapatkan tekanan yang berulang maka tendon akan menyebabkan tendon robek dan apabila tidak ditangani dengan cepat maka lama-kelamaan robekan akan semakin membesar dan menyebabkan terjadinya peradangan.

Gejala yang paling tampak adalah nyeri di bagian tendon patella antara tempurung lutut dengan perlekatan tendon dengan tulang kering.

Terapi awal yang diberikan adalah pemberian obat penghilang nyeri (seperti ibuprofen) sehingga diharapkan bisa mengurangi rasa nyeri.


Nah Itulah pembahasan singkat kali ini tentang Cedera pada Tendon, Semoga dapat bermanfaat. Apabila masih ada yang belum dimengerti Sahabat bisa menanyakannya melalui kotak komentar di bawah. Terimakasih telah berkunjung di softilmu. Jangan lupa follow dan komentarnya. J